BONA NEWS. RIAU. – Ada kabar membanggakan dari jantung budaya Riau. Tradisi Pacu Jalur—balap perahu khas masyarakat Kuantan Singingi—selangkah lebih dekat menuju pengakuan dunia. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI tengah mempersiapkan langkah untuk mendorong Pacu Jalur masuk ke daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) UNESCO.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, dalam kunjungannya ke Teluk Kuantan, menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar lomba mendayung, tetapi simbol kebersamaan dan semangat masyarakat yang tak lekang oleh zaman.

“Pacu Jalur punya nilai budaya yang kuat—gotong royong, sportivitas, juga identitas lokal. Ini warisan yang pantas dikenal dunia,” kata Hilmar, Rabu (9/7/2025), di sela pertemuan bersama tokoh adat dan pemerintah daerah.

Tradisi yang Hidup, Bukan Sekadar Seremonial

Pacu Jalur bukan tradisi yang sekadar dipamerkan tiap tahun. Ia hidup dalam denyut masyarakat Kuansing. Perahu panjang yang dinamakan “jalur” dirakit dengan kayu pilihan, dihias penuh warna dan ukiran khas. Satu jalur bisa dinaiki 40 hingga 60 pendayung, yang bukan hanya bertarung tenaga, tapi juga irama dan kekompakan.

Sejak dulu, Pacu Jalur digelar dalam perayaan besar, termasuk menyambut hari-hari besar Islam dan kedatangan pejabat penting. Kini, ia menjadi agenda wisata tahunan yang menyedot ribuan penonton.

“Tidak cuma seru, tapi juga bikin merinding lihat semangat warga. Ini bukan olahraga biasa, ini budaya yang punya ruh,” ungkap Irwan Syafri, dosen dan budayawan Riau.

Pemerintah Daerah: Siap All Out

Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby, menyatakan pihaknya menyambut baik dukungan dari pusat. Pemerintah daerah, menurutnya, sudah lama menempatkan Pacu Jalur sebagai aset budaya utama daerah.

“Kami terus benahi infrastruktur penunjang—tribun penonton, akses jalan, hingga dermaga pacu. Kalau ini jadi warisan dunia, dampaknya bisa luas: ekonomi, pariwisata, dan kebanggaan masyarakat,” ucap Suhardiman.

Tak hanya itu, Pemkab juga mendorong generasi muda agar aktif terlibat, baik sebagai pendayung, pelatih, atau tim kreatif yang mendokumentasikan jalur dalam bentuk video dan digitalisasi sejarahnya.

Masyarakat: Bangga dan Optimis

Di tengah derasnya modernisasi, warga Kuansing tetap setia merawat tradisi ini. Komunitas pecinta jalur, pembuat perahu, hingga anak-anak sekolah, semua punya bagian dalam menjaga Pacu Jalur tetap hidup.

Alfi Hidayat, Ketua Forum Pecinta Jalur Kuansing, menilai pengajuan ke UNESCO akan jadi lompatan besar.

Kalau dunia tahu tentang Pacu Jalur, kita bisa lebih percaya diri bawa budaya lokal ke level internasional. Ini bukan cuma kebanggaan Kuansing, tapi juga Riau, bahkan Indonesia,” katanya penuh semangat.

Menurutnya, tantangan ke depan adalah memastikan tradisi ini tetap berakar di masyarakat, tidak hanya berhenti di momen lomba tahunan.

Menuju Pengakuan Dunia: Bukan Mimpi, Tapi Proses

Untuk bisa masuk dalam daftar WBTb UNESCO, sebuah tradisi harus memenuhi sejumlah kriteria: diwariskan lintas generasi, punya nilai budaya tinggi, dan mendapat dukungan nyata dari komunitas serta negara.

Hilmar Farid menegaskan, pihaknya akan mengawal proses ini dengan serius. Saat ini, tim kebudayaan tengah menyiapkan berkas nominasi, termasuk kajian akademik, arsip dokumentasi, dan surat dukungan dari masyarakat adat.

“Ini bukan proses instan, bisa memakan waktu bertahun-tahun. Tapi kami optimis, karena masyarakat Kuansing sudah punya semangat luar biasa. Itu yang paling penting,” ujarnya.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Pacu Jalur bisa masuk dalam daftar nominasi WBTb UNESCO pada tahun 2026.

Tradisi seperti Pacu Jalur adalah contoh nyata bahwa kekayaan budaya Indonesia masih sangat hidup, tumbuh, dan relevan. Ketika dunia mulai menoleh pada budaya-budaya asli yang penuh makna, saatnya kita sebagai bangsa merawatnya dengan bangga. Sebab, siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan kita sendiri? (Red).