BONA NEWS. New Delhi, India.  – India dan Uni Eropa (European Union/EU) resmi menandatangani Free Trade Agreement (FTA) setelah hampir dua dekade negosiasi panjang. Kesepakatan ini dinilai sebagai salah satu tonggak sejarah perdagangan internasional, membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi kedua pihak dan memperkuat hubungan strategis di tengah dinamika global yang berubah cepat.

“Ini adalah momen penting bagi ekonomi India dan Uni Eropa. FTA ini akan meningkatkan perdagangan, investasi, dan kerjasama lintas sektor secara signifikan,” ujar Perdana Menteri India Narendra Modi pada pertemuan resmi di New Delhi, Selasa (27/1/2026), dikutip Times of India.

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut perjanjian ini sebagai “mother of all deals”, menandai era baru bagi kerjasama ekonomi antara dua entitas terbesar di dunia.
Negosiasi Panjang yang Berbuah Kesepakatan

Perjanjian FTA antara India dan Uni Eropa telah dibahas sejak 2007, namun sempat terhenti karena perbedaan posisi terkait tarif, kuota, dan regulasi teknis. Setelah 18 tahun negosiasi, kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan pada 27 Januari 2026.

Kesepakatan ini dipandang sebagai kemenangan diplomasi perdagangan India, yang selama ini berupaya membuka akses pasar Eropa sekaligus mengamankan kepentingan produsen domestik.

“Ini membuka jalur baru bagi ekspor India dan memperluas pilihan konsumen Eropa dengan harga lebih kompetitif,” kata Piyush Goyal, Menteri Perdagangan India.

FTA India–EU mencakup pasar gabungan sekitar 2 miliar penduduk dan 25% PDB global, membuatnya menjadi salah satu kesepakatan perdagangan terbesar di dunia. Kesepakatan ini menargetkan liberalisasi tarif untuk berbagai sektor strategis:
– Tarif impor kendaraan Eropa yang sebelumnya mencapai 110% akan dikurangi bertahap, dengan kuota tertentu untuk volume tahunan.

– Barang konsumsi dan industri, termasuk minuman, makanan olahan, farmasi, dan tekstil, akan mendapatkan akses lebih murah ke pasar masing-masing.

– Sektor jasa dan investasi juga akan diuntungkan, dengan aturan standar teknis yang lebih ramping dan prosedur yang disederhanakan.

Menurut Economic Times, lebih dari 96% lini tarif UE akan dikurangi atau dihapus, sementara India akan mengurangi sekitar 93% nilai perdagangan bilateral, memungkinkan ekspor dan impor lebih kompetitif secara global.

Perjanjian ini mendapat perhatian internasional karena skala dan dampaknya terhadap perdagangan global. Beberapa pengamat menyebut FTA ini sebagai “mother of all trade deals” karena potensi pengaruhnya terhadap rantai pasok dan strategi ekonomi negara besar lainnya.
Di sisi lain, kesepakatan ini juga menimbulkan respons dari Amerika Serikat, yang menyebut perjanjian ini bisa menggeser keseimbangan pasar dan memengaruhi hubungan dagang transatlantik.

Proses Ratifikasi dan Implementasi
Meski telah disepakati, FTA India–EU masih memerlukan ratifikasi internal di parlemen masing-masing pihak dan proses legal scrubbing untuk memastikan kepatuhan regulasi. Perjanjian ini diperkirakan baru bisa efektif secara penuh akhir 2026 atau awal 2027, tergantung kecepatan proses legislasi di India dan Uni Eropa.

“Perjanjian ini akan membawa manfaat jangka panjang, tetapi implementasinya harus hati-hati agar kedua pihak dapat memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko,” kata seorang analis perdagangan yang dikutip Reuters.

Uni Eropa selama ini merupakan mitra dagang terbesar India dalam perdagangan barang dan jasa. Kesepakatan ini juga bagian dari strategi India untuk diversifikasi pasar global, menghadapi proteksionisme dan fluktuasi ekonomi internasional, serta mendukung reformasi struktural ekonomi domestik.

Dengan FTA ini, India dapat mengekspor produk seperti otomotif, farmasi, tekstil, dan makanan olahan dengan tarif lebih rendah, sementara Eropa memperoleh akses lebih besar ke pasar India yang berkembang pesat.

Ringkasan:
– Negosiasi FTA India–EU sejak 2007, disepakati 27 Januari 2026.
– Pasar gabungan ~2 miliar orang, kontribusi ~25% PDB global.
– Tarif impor dipangkas besar‑besaran untuk kendaraan, farmasi, makanan, tekstil.
– Masih menunggu ratifikasi dan legal scrubbing sebelum efektif.
– Disebut sebagai “mother of all deals” oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
– Perjanjian ini diprediksi akan menjadi katalis penting dalam perdagangan global, sekaligus memperkuat posisi India sebagai kekuatan ekonomi yang semakin berpengaruh di panggung dunia.