Gambar ilustrasi

BONA NEWS. Sumatera Utara. – Di era serba digital, hampir semua aktivitas manusia—dari bekerja, belajar, hingga bersosialisasi—terjadi dalam posisi duduk. Tapi siapa sangka, duduk terlalu lama justru menjadi “pembunuh pelan-pelan” yang tak disadari banyak orang, terutama generasi muda yang terikat pada layar.

Studi yang dirilis JAMA Network Open pada 2023 menyatakan bahwa individu yang duduk lebih dari 6 jam per hari memiliki risiko kematian 19% lebih tinggi dibanding yang duduk kurang dari 3 jam. Sementara, risiko kematian akibat penyakit jantung meningkat hingga 34%.

Fakta dari Indonesia

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI memang belum merilis angka durasi duduk nasional terbaru, namun hasil survei Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa 33,5% masyarakat Indonesia memiliki aktivitas fisik rendah. Kondisi ini sangat mungkin meningkat di masa pasca-pandemi, di mana tren kerja dan belajar dari rumah makin meluas.

Laporan Active Healthy Kids Indonesia Report Card 2022 juga memperlihatkan rendahnya aktivitas fisik anak dan remaja Indonesia. Remaja dinilai “D” dalam indikator aktivitas fisik harian, dan “F” dalam perilaku sedentari—dua sinyal kuat bahwa kebiasaan duduk dominan sejak usia muda.

Dampak Kesehatan: Lebih Ganas dari yang Anda Bayangkan

Menurut World Health Organization (WHO), gaya hidup sedentari adalah salah satu penyebab utama kematian global. Duduk terlalu lama berkontribusi besar pada berbagai penyakit kronis, antara lain:

  • Penyakit jantung koroner
  • Diabetes tipe 2
  • Hipertensi dan kolesterol tinggi
  • Obesitas
  • Kanker usus besar dan payudara
  • Gangguan postur tubuh dan nyeri sendi
  • Gangguan psikologis: kecemasan, depresi, penurunan kognitif

Satu hal penting: olahraga rutin tidak cukup mengimbangi risiko duduk berjam-jam tanpa henti. Studi menunjukkan bahwa bahkan orang yang aktif berolahraga tetap berisiko tinggi jika mereka duduk terlalu lama setiap harinya.

Solusi Sederhana, Dampak Besar

Berbagai institusi medis dan kesehatan masyarakat dunia merekomendasikan pola interupsi gerak untuk memutus efek duduk panjang:

  • Berdiri atau jalan ringan setiap 30 menit
  • Gunakan alarm pengingat untuk peregangan ringan
  • Gunakan meja berdiri jika memungkinkan
  • Lebihkan jalan kaki atau naik tangga dalam aktivitas harian
  • Kurangi screen time yang tidak produktif

Langkah-langkah kecil ini terbukti menurunkan tekanan darah, menjaga metabolisme tubuh tetap aktif, dan menstabilkan suasana hati.

Gerakan Lokal yang Patut Didukung

Di Indonesia, sejumlah komunitas seperti Sehat Bergerak Indonesia dan Healthy Move Medan mulai mengedukasi masyarakat soal risiko gaya hidup pasif. Meski skalanya masih kecil, peran komunitas ini penting dalam mendorong kebiasaan aktif secara sosial dan preventif.

Tubuh manusia tidak diciptakan untuk duduk seharian. Jika tak segera diubah, gaya hidup ini akan memicu bencana kesehatan dalam 5–10 tahun ke depan. Perubahan kecil yang konsisten bisa menyelamatkan hidup.

Mulailah berdiri. Bergeraklah. Karena hidup tak ditentukan oleh seberapa sibuk kita bekerja, tapi seberapa baik kita menjaga tubuh untuk tetap hidup.

(Red)