BONA NEWS. Medan, Sumatera Utara. — Dalam sejarah panjang bangsa Indonesia, gotong royong adalah napas kehidupan sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Nusantara. Ia bukan sekadar aktivitas saling membantu, tetapi juga sistem nilai yang menumbuhkan rasa kebersamaan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Namun, ketika dunia bergerak ke arah digitalisasi total dan gaya hidup masyarakat kian individualistis, muncul pertanyaan penting: apakah gotong royong masih relevan di era digital? Apakah nilai luhur ini mampu bertahan di tengah derasnya arus modernitas yang menonjolkan efisiensi dan personalisasi?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat bagaimana gotong royong bertransformasi di tengah perubahan sosial dan digital yang luar biasa cepat, termasuk melalui data terbaru yang menunjukkan dinamika masyarakat Indonesia hingga tahun 2025.
Gotong Royong: Fondasi Sosial dan Budaya Bangsa
Gotong royong telah menjadi identitas sosial bangsa Indonesia jauh sebelum republik ini berdiri. Dalam masyarakat tradisional, nilai ini tercermin pada berbagai bentuk kegiatan kolektif: membangun rumah bersama (mambangun jabu di Sumatera Utara), menanam padi di sawah, membantu tetangga yang sakit, atau menjaga keamanan kampung.
Gotong royong bukan sekadar “tolong-menolong”, melainkan mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan kehidupan bersama. Ia mencerminkan pandangan bahwa kesejahteraan tidak hanya milik individu, tetapi hasil kerja bersama.
Bahkan, nilai ini tercermin secara formal dalam Pancasila, terutama pada sila ketiga — Persatuan Indonesia. Dari sinilah semangat gotong royong menjadi dasar bagi persatuan, solidaritas, dan rasa sepenanggungan di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama.
Data Sosial: Potret Gotong Royong di Indonesia
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki sekitar 74.961 desa/kelurahan (per 2025). Dari jumlah tersebut, lebih dari 70 ribu di antaranya masih aktif menjalankan tradisi gotong royong, baik dalam bentuk kegiatan sosial, kebersihan lingkungan, pembangunan infrastruktur desa, maupun acara keagamaan.
Meski tidak semua tercatat dalam survei nasional terbaru, data terakhir yang dirilis BPS tahun 2021 masih relevan untuk menggambarkan pola sebaran nilai ini. Saat itu, tercatat 70.229 desa/kelurahan dengan warga yang aktif bergotong royong untuk kepentingan umum.
Di antara provinsi yang memiliki tingkat partisipasi tertinggi, Jawa Tengah dan Jawa Timur masih mendominasi, namun Sumatera Utara menempati posisi penting sebagai salah satu provinsi di luar Jawa dengan tradisi gotong royong yang kuat. Berdasarkan estimasi BPS dan data pemetaan sosial 2021–2024, sekitar 4.500 desa/kelurahan di Sumatera Utara aktif menjalankan kegiatan gotong royong secara rutin.
Di banyak wilayah seperti Kabupaten Simalungun, Toba, Deli Serdang, dan Mandailing Natal, kegiatan seperti marsiadapari (kerja bersama membersihkan lingkungan atau memperbaiki fasilitas umum) masih menjadi agenda rutin masyarakat. Nilai-nilai ini diwariskan lintas generasi dan tetap hidup meski sebagian besar masyarakat kini telah terkoneksi dengan internet dan media sosial.
Era Digital dan Meningkatnya Individualisme
Memasuki tahun 2025, kehidupan masyarakat Indonesia mengalami transformasi besar akibat digitalisasi. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66% atau sekitar 229,4 juta pengguna dari total populasi 284 juta jiwa.
Artinya, hampir seluruh aktivitas sosial, ekonomi, dan pendidikan kini memiliki komponen digital. Namun, di balik kemudahan itu, muncul fenomena “isolasi sosial digital”, di mana masyarakat semakin sibuk dengan dunia maya dan perlahan kehilangan interaksi langsung.
Beberapa riset sosial menunjukkan:
- 60% generasi muda (usia 18–30 tahun) menghabiskan lebih dari 6 jam per hari di dunia digital.
- Hanya sekitar 28% dari mereka yang masih aktif mengikuti kegiatan sosial komunitas secara tatap muka.
- Di sisi lain, 45% responden dewasa di atas 40 tahun menyatakan bahwa kegiatan gotong royong di lingkungan tempat tinggalnya menurun frekuensinya dalam lima tahun terakhir.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran dari kebersamaan fisik ke kebersamaan digital, yang tidak selalu memiliki dampak emosional dan sosial yang sama. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi tidak selalu menghadirkan hubungan nyata dan solidaritas yang mendalam.
Gotong Royong Digital: Bentuk Baru di Dunia Maya
Meski pola interaksi berubah, semangat gotong royong ternyata tidak punah — melainkan bertransformasi.
Kini, gotong royong hadir dalam bentuk digital collaboration atau solidaritas daring, seperti:
- Platform crowdfunding seperti KitaBisa atau BenihBaik, yang memfasilitasi masyarakat untuk membantu sesama tanpa harus bertatap muka. Pada 2025, tercatat lebih dari Rp2,1 triliun dana sosial terkumpul secara digital di Indonesia.
- Gerakan sosial digital, misalnya kampanye #BersihPantai, #PeduliBencana, dan #DonasiUntukNakes yang digerakkan oleh komunitas online dan influencer.
- Komunitas daring berbasis wilayah, seperti grup WhatsApp RT/RW, forum warga, atau aplikasi Desa Digital, yang membantu mengkoordinasikan kegiatan sosial seperti kerja bakti dan penggalangan bantuan.
- Inisiatif gotong royong ekonomi, seperti koperasi digital dan usaha mikro berbasis komunitas online, di mana anggota saling membantu promosi dan permodalan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa teknologi justru membuka ruang baru bagi gotong royong untuk hidup dalam konteks modern. Esensinya tetap sama — saling membantu untuk kebaikan bersama — hanya medianya yang berubah.
Sumatera Utara: Contoh Adaptasi Budaya Gotong Royong
Sebagai provinsi multikultural dengan 33 kabupaten/kota dan populasi lebih dari 15 juta jiwa, Sumatera Utara menjadi cerminan menarik tentang bagaimana gotong royong beradaptasi dengan era digital.
Beberapa inisiatif sosial yang mencerminkan semangat tersebut antara lain:
- Gerakan “Sahabat Medan”, komunitas relawan muda di Kota Medan yang menggunakan media sosial untuk mengorganisasi kegiatan sosial seperti donor darah, bersih sungai, dan penggalangan dana untuk masyarakat terdampak bencana.
- Platform “GotongRoyongSumut.id”, proyek kolaborasi beberapa organisasi lokal yang memfasilitasi kampanye donasi dan bantuan sosial berbasis daring.
- Program Desa Digital di Kabupaten Deli Serdang, yang menggabungkan teknologi informasi dengan partisipasi warga dalam pembangunan desa — mulai dari transparansi dana desa hingga kerja bakti berbasis aplikasi.
Semua ini menunjukkan bahwa nilai gotong royong tetap melekat dalam kultur masyarakat Sumatera Utara, hanya saja ia menyesuaikan dengan tantangan zaman.
Tantangan Sosial di Era Digital
Meskipun gotong royong digital membawa banyak peluang, ada beberapa tantangan yang perlu diwaspadai:
- Kedangkalan empati digital. Banyak orang mudah tergerak untuk berdonasi secara online, tetapi cepat pula melupakan isu sosial setelah tren mereda.
- Kesenjangan digital. Tidak semua masyarakat memiliki akses internet yang memadai. Di beberapa kabupaten di Sumatera Utara, penetrasi internet masih di bawah 70%, yang berarti sebagian warga belum bisa terlibat aktif dalam gotong royong berbasis digital.
- Individualisme algoritmik. Media sosial cenderung menampilkan konten yang sesuai minat pribadi, bukan kebutuhan sosial bersama, sehingga ruang interaksi publik semakin menyempit.
Untuk menjaga relevansi gotong royong, nilai-nilai ini perlu terus diajarkan melalui pendidikan karakter, kegiatan komunitas, dan literasi digital.
Membangun Kembali Semangat Gotong Royong
Agar gotong royong tetap hidup di era digital, perlu langkah strategis dari berbagai pihak:
1. Pemerintah
Pemerintah dapat memperluas program Desa Digital Gotong Royong, yaitu sistem yang memadukan teknologi dengan kearifan lokal. Desa-desa bisa menggunakan platform daring untuk melaporkan kegiatan sosial, transparansi dana gotong royong, dan kolaborasi antarwarga.
2. Komunitas dan Generasi Muda
Generasi muda sebagai pengguna aktif internet harus menjadi pelopor solidaritas digital. Mereka bisa mengubah ruang maya menjadi ruang empati — bukan sekadar konsumsi konten, tetapi juga aksi sosial.
3. Dunia Pendidikan
Sekolah dan kampus perlu memasukkan nilai gotong royong dalam kurikulum digital. Proyek kolaboratif lintas daerah bisa menjadi media pembelajaran untuk menanamkan semangat kerja sama di dunia virtual.
Gotong royong tidak pernah kehilangan relevansi — yang berubah hanyalah cara ia diwujudkan.
Di era digital, gotong royong tetap hidup dalam bentuk baru: solidaritas virtual, kolaborasi online, dan aksi sosial berbasis teknologi. Namun, keberlanjutan nilai ini bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga jiwa empati, rasa kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.
Indonesia — termasuk Sumatera Utara — menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berarti pudarnya budaya. Justru sebaliknya, gotong royong adalah jembatan antara tradisi dan inovasi, antara nilai lama yang luhur dan dunia baru yang serba digital.
Selama masyarakat Indonesia masih percaya bahwa kebersamaan adalah kekuatan, maka gotong royong — baik di desa, kota, maupun dunia maya — akan selalu menjadi bagian dari denyut kehidupan bangsa.
