{"id":2291,"date":"2025-09-17T16:39:05","date_gmt":"2025-09-17T09:39:05","guid":{"rendered":"https:\/\/bonanews.my.id\/?p=2291"},"modified":"2025-09-17T16:39:05","modified_gmt":"2025-09-17T09:39:05","slug":"mahkamah-konstitusi-tegaskan-revisi-uu-tni-sah-secara-formil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/2025\/09\/17\/mahkamah-konstitusi-tegaskan-revisi-uu-tni-sah-secara-formil\/","title":{"rendered":"Mahkamah Konstitusi Tegaskan Revisi UU TNI Sah Secara Formil"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #ff9900;\">BONA NEWS.\u00a0<span style=\"color: #3366ff;\">Jakarta,\u00a0<span style=\"color: #008080;\">Indonesia. <\/span><\/span><\/span>\u00a0\u2014 Mahkamah Konstitusi (MK) resmi menyatakan bahwa revisi Undang-Undang tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang disahkan pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sah secara formil. Putusan ini dibacakan dalam sidang pleno MK di Ponorogo pada Selasa (16\/9\/2025).<\/p>\n<p>Keputusan MK sekaligus menanggapi uji formil yang diajukan sejumlah pihak yang mempersoalkan prosedur legislasi revisi UU tersebut.<\/p>\n<h2>Latar Belakang Revisi UU TNI<\/h2>\n<p>Revisi UU TNI termuat dalam <strong>UU Nomor 3 Tahun 2025<\/strong> sebagai perubahan atas <strong>UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia<\/strong>. Perubahan ini disahkan dalam rapat paripurna DPR RI pada <strong>30 Juli 2025<\/strong>, kemudian ditandatangani oleh Presiden <strong>Prabowo Subianto<\/strong> pada <strong>6 Agustus 2025<\/strong>.<\/p>\n<p>Beberapa isu yang menjadi sorotan dalam revisi ini:<\/p>\n<ul>\n<li>Penambahan ruang peran TNI dalam penanganan ancaman non-militer, termasuk operasi keamanan dalam negeri pada kondisi tertentu.<\/li>\n<li>Penguatan kewenangan Panglima TNI dalam penempatan prajurit di lembaga pemerintah dan non-militer.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Namun, sejak awal proses pembahasan, revisi UU TNI menuai kritik dari kelompok masyarakat sipil, akademisi, dan lembaga kajian hukum. Kritik utama terkait prosedur dan transparansi legislasi.<\/p>\n<p>Sejumlah organisasi, antara lain <strong>Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK)<\/strong> dan <strong>Imparsial<\/strong>, mengajukan permohonan uji formil ke MK pada <strong>12 Agustus 2025<\/strong>. Mereka menilai:<\/p>\n<ol>\n<li>RUU TNI tidak melalui <strong>Prolegnas Prioritas<\/strong>.<\/li>\n<li>Proses legislasi dilakukan mendadak tanpa partisipasi publik yang memadai.<\/li>\n<li>Draft dan naskah akademik tidak dipublikasikan secara terbuka sejak awal.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Fajri Nursyamsi<\/strong>, Deputi Direktur PSHK, menegaskan pada konferensi pers <strong>13 Agustus 2025<\/strong>:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cRevisi UU TNI melanggar tahapan perencanaan dan penyusunan peraturan perundang-undangan. Publik kehilangan kesempatan memberikan masukan yang bermakna.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p><strong>Gufron Mabruri<\/strong>, Direktur Imparsial, menyebut bahwa revisi UU TNI tidak mendesak dan diwarnai beberapa usulan yang bermasalah.<\/p>\n<h2>Putusan Mahkamah Konstitusi<\/h2>\n<p>Setelah sidang panjang, MK membacakan putusan pada <strong>16 September 2025<\/strong>. Ketua MK menyampaikan bahwa proses legislasi revisi UU TNI telah memenuhi ketentuan formal:<\/p>\n<ul>\n<li>RUU TNI masuk kategori kumulatif terbuka.<\/li>\n<li>Persetujuan presiden dan DPR dilakukan sesuai mekanisme.<\/li>\n<li>Partisipasi publik, meski terbatas, tetap memenuhi syarat formal.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dengan demikian, permohonan uji formil <strong>ditolak seluruhnya<\/strong>.<\/p>\n<p><strong>Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin<\/strong> menyatakan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cUU TNI sudah bersifat final dan sah secara hukum. Pemerintah siap melaksanakan implementasinya.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Wakil Ketua DPR, <strong>Lodewijk F. Paulus<\/strong>, menegaskan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDPR telah bekerja sesuai mekanisme. Putusan MK menegaskan tidak ada pelanggaran formil.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Meski sah secara formil, kritik masih datang dari masyarakat sipil:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Gufron Mabruri (Imparsial):<\/strong> mengkhawatirkan pelebaran peran militer dalam ranah sipil.<\/li>\n<li><strong>Bivitri Susanti (STH Indonesia Jentera):<\/strong> menyoroti pentingnya naskah akademik yang transparan dalam legislasi.<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Kronologi Singkat<\/h2>\n<ul>\n<li><strong>30 Juli 2025<\/strong> \u2014 DPR sahkan revisi UU TNI.<\/li>\n<li><strong>6 Agustus 2025<\/strong> \u2014 Presiden Prabowo Subianto undangkan UU.<\/li>\n<li><strong>12 Agustus 2025<\/strong> \u2014 Permohonan uji formil diajukan ke MK.<\/li>\n<li><strong>13 Agustus 2025<\/strong> \u2014 PSHK dan Imparsial beri pernyataan publik.<\/li>\n<li><strong>16 September 2025<\/strong> \u2014 MK putuskan revisi UU TNI sah.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Putusan MK menegaskan <strong>UU TNI sah secara formil<\/strong>, memberikan kepastian hukum bagi pemerintah dan DPR. Namun, substansi UU tetap menuai kritik terkait transparansi, partisipasi publik, dan potensi perluasan peran militer di ranah sipil.<\/p>\n<p>Masa depan implementasi UU TNI akan menentukan apakah peran TNI benar-benar memperkuat pertahanan negara atau menimbulkan risiko politisasi militer dalam urusan sipil.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONA NEWS.\u00a0Jakarta,\u00a0Indonesia. \u00a0\u2014 Mahkamah Konstitusi (MK) resmi menyatakan bahwa revisi Undang-Undang tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang disahkan pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sah secara formil. Putusan ini dibacakan dalam sidang pleno MK di Ponorogo pada Selasa (16\/9\/2025). Keputusan MK sekaligus menanggapi uji formil yang diajukan sejumlah pihak yang mempersoalkan prosedur legislasi revisi UU [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":2294,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,22,85,3],"tags":[],"class_list":["post-2291","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-hukum-kriminal","category-militer","category-pemerintah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2291","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2291"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2291\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2295,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2291\/revisions\/2295"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2294"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}