{"id":3103,"date":"2025-10-04T15:45:10","date_gmt":"2025-10-04T08:45:10","guid":{"rendered":"https:\/\/bonanews.my.id\/?p=3103"},"modified":"2025-10-04T15:45:10","modified_gmt":"2025-10-04T08:45:10","slug":"arab-saudi-dan-rusia-sepakat-opec-tambah-produksi-minyak-secara-bertahap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/2025\/10\/04\/arab-saudi-dan-rusia-sepakat-opec-tambah-produksi-minyak-secara-bertahap\/","title":{"rendered":"Arab Saudi dan Rusia Sepakat, OPEC+ Tambah Produksi Minyak Secara Bertahap"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #ff6600;\">BONA NEWS.\u00a0<span style=\"color: #0000ff;\">Jakarta,\u00a0<span style=\"color: #008000;\">Indomesia. <\/span><\/span><\/span>\u00a0\u2013 Grup negara pengekspor minyak dan sekutunya yang tergabung dalam <strong>OPEC+<\/strong> (Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus) resmi memutuskan untuk menaikkan produksi minyak mentah mulai Oktober 2025. Namun, kenaikan kali ini bersifat <strong>moderat<\/strong>, jauh lebih kecil dibandingkan langkah-langkah sebelumnya.<\/p>\n<p>Dalam pertemuan tingkat menteri di Wina dan Riyadh, Jumat (3\/10\/2025), OPEC+ menyepakati penambahan kuota produksi sebesar <strong>137.000 barel per hari (bpd)<\/strong>. Kenaikan ini menjadi bagian dari proses bertahap untuk mengakhiri pemangkasan produksi sukarela yang berlaku sejak pandemi COVID-19.<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Kenaikan produksi kali ini adalah bagian dari strategi jangka panjang OPEC+ untuk memastikan keseimbangan pasar, melindungi pendapatan negara anggota, sekaligus menghindari gejolak harga yang berlebihan,<\/strong>\u201d ujar <strong>Haitham Al Ghais<\/strong>, Sekretaris Jenderal OPEC, dalam konferensi pers usai pertemuan, dikutip dari <em>Reuters<\/em>.<\/p><\/blockquote>\n<p>Pada 2020, OPEC+ memangkas produksi hingga <strong>9,7 juta bpd<\/strong>, pemangkasan terbesar dalam sejarah, guna menahan kejatuhan harga minyak akibat pandemi. Kebijakan itu terbukti ampuh mengangkat harga kembali ke level yang menguntungkan bagi produsen.<\/p>\n<p>Namun, setelah ekonomi global mulai pulih, OPEC+ secara perlahan menyesuaikan kembali produksinya. Meski demikian, gejolak geopolitik, perang, dan perlambatan ekonomi membuat kelompok ini mengambil sikap hati-hati.<\/p>\n<h2>Perdebatan Internal: Arab Saudi vs Rusia<\/h2>\n<p>Kesepakatan Oktober 2025 tidak lepas dari tarik-menarik antara dua pemain utama, <strong>Arab Saudi<\/strong> dan <strong>Rusia<\/strong>.<\/p>\n<p>Arab Saudi mendorong kenaikan yang lebih moderat. Menteri Energi Arab Saudi, <strong>Pangeran Abdulaziz bin Salman<\/strong>, menegaskan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Kami belajar dari pengalaman. Lebih baik menaikkan produksi sedikit demi sedikit, sambil mengamati reaksi pasar, daripada mengambil langkah besar yang bisa mengguncang stabilitas,<\/strong>\u201d kata Abdulaziz, dilansir <em>Financial Times<\/em>.<\/p><\/blockquote>\n<p>Sebaliknya, Rusia menginginkan kenaikan lebih cepat. <strong>Alexander Novak<\/strong>, Wakil Perdana Menteri Rusia yang juga membidangi energi, menyatakan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Pasar global masih mampu menyerap tambahan pasokan. Jika kita terlalu konservatif, kita akan kehilangan pangsa pasar kepada produsen non-OPEC, khususnya Amerika Serikat,<\/strong>\u201d tegas Novak, dikutip <em>Reuters<\/em>.<\/p><\/blockquote>\n<p>Sejumlah analis meyakini OPEC+ akan tetap berhati-hati. Goldman Sachs memperkirakan tambahan kuota sekitar <strong>140.000 bpd lagi pada November 2025<\/strong>.<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>OPEC+ tampaknya ingin melakukan normalisasi secara hati-hati. Mereka tidak ingin melihat harga minyak jatuh terlalu cepat, namun juga sadar bahwa pasar membutuhkan tambahan pasokan,<\/strong>\u201d tulis laporan riset Goldman Sachs.<\/p><\/blockquote>\n<p>Sementara itu, <strong>Energy Information Administration (EIA)<\/strong> memprediksi kenaikan produksi akan menambah persediaan minyak global pada kuartal IV 2025. Hal ini bisa menekan harga Brent ke kisaran <strong>USD 75\u201380 per barel<\/strong>, dibanding rata-rata USD 87 pada kuartal sebelumnya.<\/p>\n<p>Sejak pekan terakhir September, harga minyak dunia menunjukkan tren melemah. Data <em>Reuters<\/em> mencatat harga minyak Brent pada 3 Oktober 2025 berada di kisaran <strong>USD 81 per barel<\/strong>, turun hampir 7% dibanding pekan sebelumnya.<\/p>\n<p>Menurut analis energi dari <em>Rystad Energy<\/em>, <strong>Louise Dickson<\/strong>:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Pasar membaca sinyal bahwa pasokan akan bertambah, sementara permintaan mungkin tidak tumbuh secepat itu. Kombinasi ini mendorong harga turun, meskipun belum masuk ke level krisis,<\/strong>\u201d kata Dickson, dilansir <em>Bloomberg<\/em>.<\/p><\/blockquote>\n<h2>Dampak ke Indonesia: APBN Bisa Bernapas Lega<\/h2>\n<p>Indonesia, sebagai negara net importir minyak, ikut mencermati keputusan OPEC+.<\/p>\n<p>Kepala BPH Migas, <strong>Erfansyah<\/strong>, menilai dampaknya relatif positif:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Kalau harga minyak dunia lebih terkendali, itu membantu APBN kita dalam hal subsidi energi. Namun, kita juga harus siap menghadapi fluktuasi. Stabilitas harga tidak sepenuhnya bisa dijamin,<\/strong>\u201d ujarnya di Jakarta.<\/p><\/blockquote>\n<p>Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, <strong>Komaidi Notonegoro<\/strong>, menambahkan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Harga BBM di Indonesia lebih dipengaruhi oleh kebijakan subsidi dan formula harga pemerintah. Namun, tren global tetap penting sebagai acuan jangka menengah,<\/strong>\u201d katanya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Keputusan OPEC+ ini juga mencerminkan tekanan dari konsumen besar. Amerika Serikat, India, dan Tiongkok mendesak OPEC+ agar tidak terlalu lama menahan pasokan.<\/p>\n<p>Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, <strong>Adrienne Watson<\/strong>, mengatakan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Kami percaya bahwa pasar energi yang stabil adalah kepentingan bersama. Kami akan terus berdialog dengan mitra di Timur Tengah mengenai langkah ke depan,<\/strong>\u201d ujarnya, dilansir <em>Washington Post<\/em>.<\/p><\/blockquote>\n<p>Meski saat ini fokus pada keseimbangan pasar, OPEC+ tidak bisa mengabaikan isu transisi energi.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif <strong>International Energy Agency (IEA)<\/strong>, <strong>Fatih Birol<\/strong>, mengingatkan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Ini paradoks bagi OPEC+. Dunia akan beralih ke energi terbarukan, tapi kebutuhan fiskal negara anggota membuat mereka tetap bergantung pada minyak.<\/strong>\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Menurut IEA, permintaan minyak global diperkirakan masih tumbuh hingga 2027 sebelum mulai melandai, terutama karena kendaraan listrik dan energi terbarukan.<\/p>\n<p>Keputusan OPEC+ menaikkan produksi sebesar 137.000 bpd pada Oktober 2025 menunjukkan strategi <strong>kompromi<\/strong>: Arab Saudi menahan laju, Rusia mendorong percepatan, sementara pasar menunggu dampaknya.<\/p>\n<p>Harga minyak kemungkinan akan stabil di kisaran <strong>USD 75\u201385 per barel<\/strong> hingga akhir 2025, tergantung pada permintaan global dan konsistensi anggota OPEC+ dalam menjalankan kesepakatan.<\/p>\n<p>Seperti ditegaskan oleh Sekjen OPEC, <strong>Haitham Al Ghais<\/strong>:<\/p>\n<blockquote><p>\u201c<strong>Kami tidak sekadar produsen, kami penjaga stabilitas energi dunia. Setiap langkah yang kami ambil selalu mempertimbangkan keseimbangan jangka panjang.<\/strong>\u201d<\/p><\/blockquote>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONA NEWS.\u00a0Jakarta,\u00a0Indomesia. \u00a0\u2013 Grup negara pengekspor minyak dan sekutunya yang tergabung dalam OPEC+ (Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus) resmi memutuskan untuk menaikkan produksi minyak mentah mulai Oktober 2025. Namun, kenaikan kali ini bersifat moderat, jauh lebih kecil dibandingkan langkah-langkah sebelumnya. Dalam pertemuan tingkat menteri di Wina dan Riyadh, Jumat (3\/10\/2025), OPEC+ menyepakati penambahan [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3103","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3103","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3103"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3103\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3107,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3103\/revisions\/3107"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3103"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3103"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3103"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}