{"id":3229,"date":"2025-10-10T02:29:15","date_gmt":"2025-10-09T19:29:15","guid":{"rendered":"https:\/\/bonanews.my.id\/?p=3229"},"modified":"2025-10-10T02:29:15","modified_gmt":"2025-10-09T19:29:15","slug":"fashion-regeneratif-indonesia-diakui-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/2025\/10\/10\/fashion-regeneratif-indonesia-diakui-dunia\/","title":{"rendered":"Fashion Regeneratif Indonesia Diakui Dunia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #ff6600;\">BONA NEWS.\u00a0<span style=\"color: #0000ff;\">Jakarta,\u00a0<span style=\"color: #008000;\">Imdonwsia.\u00a0<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><strong>Jakarta, Kamis 9 Oktober 2025<\/strong> \u2014 Dunia kembali menoleh ke Indonesia lewat kiprah inovatif di bidang mode berkelanjutan. Sebuah inisiatif fashion regeneratif berbasis pemberdayaan lokal berhasil meraih penghargaan internasional bergengsi <strong>Pritzker Emerging Environmental Genius Award 2025<\/strong>.<br \/>\nPenghargaan yang diberikan oleh <strong>UCLA Institute of the Environment and Sustainability (IoES)<\/strong> itu diserahkan kepada <strong>Denica Riadini-Flesch<\/strong>, pendiri dan CEO <strong>SukkhaCitta<\/strong>, atas kontribusinya dalam membangun model rantai pasok \u201cfarm-to-closet\u201d yang menggabungkan pelestarian lingkungan, regenerasi tanah, serta pemberdayaan petani dan pengrajin perempuan di pedesaan Indonesia.<\/p>\n<p>Upacara penghargaan berlangsung di Los Angeles pada <strong>Rabu, 8 Oktober 2025<\/strong> waktu setempat. Dalam sambutannya, <strong>Tony Pritzker<\/strong>, ketua yayasan yang menyiapkan penghargaan ini, menegaskan bahwa tahun ini dewan juri menghadapi keputusan yang sangat sulit karena seluruh nominasi memiliki kontribusi luar biasa di bidang lingkungan.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cThe most challenging aspect of this award process is choosing just one to be the winner \u2014 each of the many nominees is truly exceptional,\u201d ujar Pritzker.<br \/>\nIa menambahkan, \u201cDenica represents a standout example of a social entrepreneur who is leveraging her commitment to environmental sustainability to both preserve Indonesian traditions and create a viable business model.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<h3>Dari Ekonomi ke Ekologi: Awal Lahirnya Gagasan<\/h3>\n<p>Denica Riadini-Flesch bukan berlatar belakang desainer mode, melainkan ekonom. Setelah bekerja di bidang pembangunan ekonomi, ia menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi sering kali mengorbankan manusia dan alam di akar rumput. Dalam salah satu wawancara dengan tim UCLA, Denica mengenang pertemuannya dengan seorang pengrajin di Jawa Tengah yang mengeluhkan bahan pewarna sintetis yang ia gunakan.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cShe told me, \u2018The chemical dye burns my hands, my eyes, my lungs.\u2019 That moment changed my life,\u201d ujar Denica.<br \/>\nDari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa masalah mode bukan sekadar tren, tetapi krisis yang menyentuh kesehatan manusia dan kelestarian bumi.<\/p><\/blockquote>\n<p>Berangkat dari kesadaran itu, ia mendirikan <strong>SukkhaCitta<\/strong> \u2014 sebuah usaha sosial yang mengubah cara pandang terhadap busana. Ia tidak sekadar ingin membuat produk \u201cramah lingkungan\u201d, melainkan membangun <strong>sistem mode regeneratif<\/strong>: sebuah model yang menghidupkan kembali tanah, air, dan komunitas yang sebelumnya tereksploitasi oleh industri mode cepat (<em>fast fashion<\/em>).<\/p>\n<h3>Konsep \u201cFarm-to-Closet\u201d: Dari Ladang ke Lemari<\/h3>\n<p>Model yang dikembangkan SukkhaCitta disebut <em>farm-to-closet<\/em> atau \u201cdari ladang ke lemari\u201d. Konsep ini melibatkan petani kapas lokal yang menanam secara regeneratif \u2014 tanpa pestisida, tanpa bahan kimia, dan dengan teknik konservasi air.<br \/>\nDari bahan baku itu, proses berlanjut ke para pengrajin perempuan di desa-desa, yang memintal, mewarnai, dan menenun kain menggunakan pewarna alami seperti nila (<em>indigo<\/em>) atau kulit kayu mahoni. Setiap tahap dilakukan di komunitas setempat, tanpa proses industrialisasi besar yang biasanya menghasilkan limbah beracun.<\/p>\n<p>Dengan rantai pasok pendek dan transparan, setiap potongan kain dapat ditelusuri hingga ke desa asalnya. Denica menekankan bahwa sistem ini bukan hanya tentang bahan alami, tetapi juga <strong>tentang martabat dan kemandirian perempuan<\/strong>.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cWhen indigenous wisdom, regenerative farming, and economic dignity are placed at the heart of our solutions, we don\u2019t just reduce harm \u2014 we lay the blueprint for a regenerative future,\u201d ujarnya dalam pidato penerimaan penghargaan, Rabu, 8 Oktober 2025.<\/p><\/blockquote>\n<p>SukkhaCitta melaporkan sejumlah hasil konkret dari penerapan sistem regeneratifnya selama lima tahun terakhir:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Pemulihan lahan<\/strong>: Lebih dari <strong>120 acre<\/strong> (sekitar 48 hektar) lahan kritis telah dipulihkan melalui praktik pertanian regeneratif yang mengembalikan kesuburan tanah.<\/li>\n<li><strong>Pengurangan limbah pewarna sintetis<\/strong>: Hampir <strong>5 juta liter air<\/strong> yang sebelumnya berpotensi tercemar bahan kimia berhasil diselamatkan dari polusi.<\/li>\n<li><strong>Emisi karbon<\/strong>: Sistem distribusi pendek dan bahan alami menekan emisi karbon hingga <strong>25 ton CO\u2082<\/strong> per tahun.<\/li>\n<li><strong>Peningkatan kesejahteraan<\/strong>: Pendapatan perempuan pengrajin meningkat rata-rata <strong>60 persen<\/strong> sejak bergabung dengan jaringan SukkhaCitta.<\/li>\n<li><strong>Pengurangan plastik sekali pakai<\/strong>: Eliminasi penggunaan plastik dalam distribusi dan pengemasan setara dengan <strong>6.000 kantong plastik<\/strong> setiap tahun.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Data tersebut diverifikasi melalui laporan internal SukkhaCitta yang diaudit oleh mitra lingkungan, serta dipublikasikan dalam rilis resmi UCLA IoES pada 8 Oktober 2025.<\/p>\n<p>Direktur UCLA Institute of the Environment and Sustainability, <strong>Alex Hall<\/strong>, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kiprah Denica.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cShe\u2019s paving the way, and it\u2019s up to us to follow her lead,\u201d kata Hall dalam keterangan resmi.<br \/>\nIa menyebut Denica sebagai contoh nyata pemimpin muda dari negara berkembang yang menunjukkan bahwa solusi perubahan iklim tidak hanya berasal dari inovasi teknologi tinggi, tetapi juga dari kearifan lokal dan keadilan sosial.<\/p><\/blockquote>\n<p>Penghargaan Pritzker Emerging Environmental Genius Award sendiri telah menjadi salah satu penghargaan paling bergengsi di bidang lingkungan untuk generasi muda. Sejak pertama kali diberikan pada 2017, penghargaan ini mengakui individu di bawah usia 40 tahun yang menunjukkan kontribusi luar biasa terhadap perlindungan lingkungan melalui inovasi lintas disiplin.<\/p>\n<p>Denica menjadi <strong>pemenang pertama asal Indonesia<\/strong>, sekaligus mewakili sektor fashion dalam konteks regeneratif \u2014 sebuah tema yang kini semakin mendesak di tengah krisis iklim global.<\/p>\n<p>Meskipun mendapat pengakuan dunia, Denica mengakui bahwa menjalankan bisnis regeneratif tidak selalu mudah. Ia menghadapi berbagai tantangan mulai dari keterbatasan kapasitas produksi, permodalan, hingga kesadaran pasar.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cIt takes time to build something that heals instead of harms. But it\u2019s worth every step,\u201d ujarnya setelah menerima penghargaan.<\/p><\/blockquote>\n<p>Skala komunitas yang kecil membuat SukkhaCitta sulit memenuhi permintaan pasar global secara cepat. Namun, Denica menolak untuk beralih ke produksi massal. Ia menilai bahwa mempertahankan integritas proses adalah bagian penting dari filosofi keberlanjutan.<\/p>\n<p>Selain itu, ia berupaya membangun <strong>jejak pengetahuan terbuka<\/strong> agar petani dan pengrajin dari daerah lain dapat meniru sistem <em>farm-to-closet<\/em> tanpa harus bergantung langsung pada perusahaannya. \u201cSustainability means sharing the tools, not just the brand,\u201d katanya.<\/p>\n<h3>Konteks Global: Fashion dan Krisis Iklim<\/h3>\n<p>Industri mode menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dunia, mencapai sekitar <strong>10 persen<\/strong> dari total emisi global. Selain itu, limbah pewarna tekstil menjadi sumber pencemar air yang signifikan di banyak negara berkembang.<br \/>\nKrisis tersebut diperburuk oleh budaya konsumsi cepat yang mendorong produksi besar-besaran, biaya rendah, dan siklus produk pendek.<\/p>\n<p>Pendekatan SukkhaCitta menawarkan narasi tandingan: bahwa mode tidak harus menjadi sumber kerusakan, melainkan bisa menjadi bagian dari solusi. Sistem <em>farm-to-closet<\/em> mengubah setiap tahap produksi menjadi aksi perbaikan lingkungan \u2014 dari tanah hingga pakaian.<\/p>\n<p>Model ini juga relevan secara sosial, karena memperkuat posisi perempuan desa sebagai pelaku ekonomi yang berdaulat, bukan buruh upah murah. Dalam banyak kasus, perempuan yang dulu bekerja tanpa upah kini menjadi pemilik usaha mikro dengan pendapatan stabil dan pengakuan sosial di komunitasnya.<\/p>\n<p>Dalam keterangan persnya, Denica Riadini-Flesch menyampaikan visi jangka panjang SukkhaCitta: meregenerasi <strong>2,5 juta acre<\/strong> lahan di Indonesia dan menciptakan <strong>10.000 perempuan pemimpin lokal<\/strong> di sektor pertanian dan kerajinan pada tahun 2050.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cThe opposite of poverty isn\u2019t wealth. It\u2019s dignity,\u201d ujarnya menegaskan filosofi dasar perusahaannya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Ia berharap penghargaan dari UCLA ini menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, dan investor sosial agar pendekatan regeneratif bisa diterapkan secara luas di Indonesia.<\/p>\n<p>Sementara itu, dari sisi akademik, UCLA IoES menyatakan akan menjadikan proyek <em>farm-to-closet<\/em> ini sebagai <strong>studi kasus global<\/strong> dalam perkuliahan dan riset lintas disiplin tentang ekonomi regeneratif dan keadilan lingkungan.<\/p>\n<p>Penghargaan ini menjadi kabar baik bagi dunia mode dan lingkungan di Indonesia. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap krisis iklim, kisah Denica menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari kota besar atau laboratorium teknologi tinggi. Solusi bisa tumbuh dari desa, dari perempuan, dan dari tradisi yang berpadu dengan ilmu pengetahuan modern.<\/p>\n<p>Model <em>farm-to-closet<\/em> mengajarkan bahwa keberlanjutan sejati bukan hanya mengganti bahan, tetapi membangun sistem baru yang adil bagi semua pihak dalam rantai produksi. Ia juga membuktikan bahwa pasar internasional kini semakin terbuka pada nilai-nilai etika dan lingkungan.<\/p>\n<p>Dengan kemenangan ini, Denica Riadini-Flesch bergabung dengan deretan penerima Pritzker Award sebelumnya yang berasal dari berbagai negara dan disiplin ilmu \u2014 mulai dari inovator teknologi hingga aktivis lingkungan. Bedanya, kali ini pemenangnya berasal dari dunia fashion, dan dari Indonesia.<\/p>\n<p>Kemenangan SukkhaCitta dan Denica Riadini-Flesch dalam Pritzker Emerging Environmental Genius Award 2025 menjadi bukti bahwa semangat pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan inovasi bisnis.<br \/>\nDalam pidato penutupnya di Los Angeles, Rabu malam waktu setempat, Denica menutup dengan kalimat sederhana namun kuat:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cWhat we wear matters \u2014 not only to us, but to the planet.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Kata-kata itu mencerminkan esensi gerakan yang ia bangun: busana tidak sekadar penutup tubuh, tetapi juga pernyataan moral tentang masa depan bumi.<\/p>\n<p>Melalui penghargaan ini, Indonesia tidak hanya menghadirkan produk mode, tetapi juga <strong>ide perubahan global<\/strong>: bahwa dari benang yang ditenun dengan hati, dunia bisa dijahit kembali menjadi lebih adil dan lestari.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONA NEWS.\u00a0Jakarta,\u00a0Imdonwsia.\u00a0 Jakarta, Kamis 9 Oktober 2025 \u2014 Dunia kembali menoleh ke Indonesia lewat kiprah inovatif di bidang mode berkelanjutan. Sebuah inisiatif fashion regeneratif berbasis pemberdayaan lokal berhasil meraih penghargaan internasional bergengsi Pritzker Emerging Environmental Genius Award 2025. Penghargaan yang diberikan oleh UCLA Institute of the Environment and Sustainability (IoES) itu diserahkan kepada Denica Riadini-Flesch, [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":3232,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,33,39],"tags":[],"class_list":["post-3229","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-internasional","category-lingkungan-hidup"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3229","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3229"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3229\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3233,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3229\/revisions\/3233"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3229"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3229"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3229"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}