{"id":3502,"date":"2025-10-19T04:18:39","date_gmt":"2025-10-18T21:18:39","guid":{"rendered":"https:\/\/bonanews.my.id\/?p=3502"},"modified":"2025-10-19T04:18:39","modified_gmt":"2025-10-18T21:18:39","slug":"indonesia-teguh-pada-sikap-politik-ioc-soroti-prinsip-olimpiade","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/2025\/10\/19\/indonesia-teguh-pada-sikap-politik-ioc-soroti-prinsip-olimpiade\/","title":{"rendered":"Indonesia Teguh pada Sikap Politik, IOC Soroti Prinsip Olimpiade"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #ff6600;\">BONA NEWS.\u00a0<span style=\"color: #0000ff;\">Jakarta,\u00a0<span style=\"color: #008000;\">Indonesia. <\/span><\/span><\/span>\u2014 Keputusan Pemerintah Indonesia menolak pemberian visa bagi tim gimnastik Israel untuk mengikuti <strong>2025 World Artistic Gymnastics Championships<\/strong> di Jakarta memicu reaksi keras dari komunitas olahraga internasional.<\/p>\n<p>Komite Olimpiade Internasional (IOC) menyatakan <em>\u201ckeprihatinan besar\u201d<\/em> atas langkah tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip non-diskriminasi yang menjadi dasar Piagam Olimpiade.<\/p>\n<p>Turnamen bergengsi itu tetap digelar pada 19\u201325 Oktober 2025 di <strong>Indonesia Arena, Jakarta<\/strong>, di bawah koordinasi <strong>F\u00e9d\u00e9ration Internationale de Gymnastique (FIG)<\/strong>, meski tanpa kehadiran kontingen Israel.<\/p>\n<p>Kontroversi bermula ketika pada 9 Oktober 2025, <strong>Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Imigrasi Yusril Ihza Mahendra<\/strong> mengonfirmasi bahwa pemerintah tidak akan menerbitkan visa bagi atlet Israel yang hendak berpartisipasi.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cPemerintah tidak akan memberikan visa kepada atlet-atlet Israel yang berniat datang ke Jakarta untuk mengikuti kejuaraan dunia gimnastik. Sikap ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel,\u201d kata Yusril melalui keterangan tertulis, (9\/10\/2025).<\/p><\/blockquote>\n<p>Menurut Yusril, keputusan tersebut mempertimbangkan faktor politik luar negeri dan dinamika sosial di dalam negeri, termasuk tekanan dari sejumlah organisasi keagamaan yang menolak kehadiran atlet Israel di tanah air.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKita konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak segala bentuk penindasan di Gaza,\u201d ujarnya.<\/p><\/blockquote>\n<p>FIG, sebagai penyelenggara utama, merespons hati-hati. Dalam pernyataan resmi bertanggal 10 Oktober 2025, FIG menyatakan pihaknya <em>\u201cmencatat keputusan pemerintah Indonesia\u201d<\/em> dan <em>\u201cmengakui tantangan yang dihadapi tuan rumah.\u201d<\/em><\/p>\n<blockquote><p>\u201cThe FIG takes note of the Indonesian government\u2019s decision not to issue visas to the Israeli delegation registered for the 53rd World Artistic Gymnastics Championships and recognizes the challenges the host country has faced,\u201d tulis FIG di laman resminya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Meski statuta FIG menegaskan bahwa negara tuan rumah wajib memastikan akses visa bagi semua peserta, federasi tersebut tidak mengambil langkah pembatalan atau pemindahan lokasi kejuaraan.<\/p>\n<p>Penolakan visa itu memicu langkah hukum dari pihak Israel. <strong>Israel Gymnastics Federation (IGF)<\/strong> mengajukan banding ke <strong>Court of Arbitration for Sport (CAS)<\/strong> di Lausanne, Swiss, agar Indonesia diwajibkan mengeluarkan visa atau kejuaraan dipindahkan.<\/p>\n<p>Namun, pada 13 Oktober 2025, CAS menolak permohonan darurat tersebut. Dalam putusannya, lembaga arbitrase olahraga tertinggi dunia itu menyatakan tidak memiliki cukup waktu untuk menilai substansi perkara sebelum kejuaraan dimulai.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cThe CAS Panel has rejected the request for interim measures filed by the Israel Gymnastics Federation seeking to compel Indonesia to grant entry visas to its delegation,\u201d tulis pernyataan resmi CAS yang dikutip <strong>Antara News<\/strong> (14\/10\/2025).<\/p><\/blockquote>\n<p>Baca Juga :<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"oSrDrolk2O\"><p><a href=\"https:\/\/bonanews.my.id\/2025\/10\/09\/tanpa-israel-kejuaraan-dunia-senam-artistik-2025-di-jakarta-tetap-berlangsung-lancar\/\">Tanpa Israel, Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta Tetap Berlangsung Lancar<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Tanpa Israel, Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta Tetap Berlangsung Lancar&#8221; &#8212; BONA NEWS &amp; TV\" src=\"https:\/\/bonanews.my.id\/2025\/10\/09\/tanpa-israel-kejuaraan-dunia-senam-artistik-2025-di-jakarta-tetap-berlangsung-lancar\/embed\/#?secret=ORfey8ldLj#?secret=oSrDrolk2O\" data-secret=\"oSrDrolk2O\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>Sehari kemudian, <strong>Reuters<\/strong> melaporkan bahwa federasi Israel mengonfirmasi ketidakhadiran timnya di Jakarta.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cThis is a sad day for sport and for the values we believe in,\u201d ujar Direktur IGF Nadav Leshem. \u201cOur athletes have trained for years for this event, but politics once again interfered with sport.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Salah satu atlet yang batal tampil adalah <strong>Artem Dolgopyat<\/strong>, peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 pada nomor lantai putra. Absennya Dolgopyat menjadi sorotan global karena ia termasuk favorit juara dunia.<\/p>\n<p>Reaksi keras datang dari <strong>Komite Olimpiade Internasional (IOC : International Olimpiade Committe)<\/strong>. Dalam siaran pers yang dirilis <strong>18 Oktober 2025<\/strong>, IOC menyebut langkah pemerintah Indonesia <em>\u201csangat memprihatinkan\u201d<\/em> dan bertentangan dengan semangat Olimpiade.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cIt was with great concern that the IOC learnt that the Indonesian government has denied the Israeli gymnastics team visas to enter the country,\u201d demikian kutipan pernyataan resmi IOC.<br \/>\n\u201cThe IOC\u2019s principled position is clear: all eligible athletes must be able to participate in international sports competitions without any form of discrimination from the host country.\u201d<br \/>\n\u201cSport must remain a safe space for athletes to fulfil their dreams; athletes must not be held responsible for political decisions.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>IOC menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan FIG, Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), dan pemerintah Indonesia untuk mencari solusi, namun <em>\u201ctidak menemukan resolusi yang memadai.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Pernyataan IOC juga memunculkan kemungkinan evaluasi terhadap status Indonesia sebagai tuan rumah event-event internasional mendatang, termasuk agenda multievent Asia dan kualifikasi Olimpiade.<\/p>\n<p>Sikap FIG yang tidak membatalkan kejuaraan dunia di Jakarta menuai kritik.<br \/>\nSejumlah analis olahraga menilai federasi tersebut terkesan <em>lunak<\/em> terhadap negara tuan rumah, padahal Pasal 12 Statuta FIG menyebut dengan jelas bahwa hak menjadi tuan rumah dapat dicabut <em>\u201capabila pemerintah setempat gagal memberikan visa kepada peserta.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Namun hingga kejuaraan dimulai, FIG hanya menyatakan \u201cmenyesalkan situasi tersebut\u201d tanpa mengambil tindakan tegas.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cThis is a clear breach of FIG\u2019s own rules, yet no sanction has been imposed,\u201d kata Dr. Peter Kaufmann, pakar hukum olahraga dari University of Bern, dalam wawancara dengan ESPN (18\/10\/2025).<br \/>\n\u201cIt sets a dangerous precedent for future events when host countries can use visa restrictions to exclude certain nations without penalty.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Bagi FIG, mempertahankan jadwal event dianggap langkah paling realistis mengingat kejuaraan dunia ini juga berfungsi sebagai babak kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028. Pembatalan mendadak akan menimbulkan konsekuensi logistik dan finansial besar.<\/p>\n<h2><strong>Konteks Politik dan Diplomatik<\/strong><\/h2>\n<p>Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik sejak berdirinya negara Yahudi tersebut pada 1948. Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina merupakan konsensus lintas partai dan pemerintah di Jakarta.<\/p>\n<p>Sikap ini juga terlihat ketika <strong>FIFA<\/strong> pada 2023 mencabut hak Indonesia menjadi tuan rumah <strong>Piala Dunia U-20<\/strong> setelah dua provinsi menolak kedatangan tim nas Israel. Kasus serupa kini terulang dalam cabang gimnastik.<\/p>\n<p>Keputusan visa ini mencerminkan tekanan domestik yang kuat terhadap pemerintah. Secara politik luar negeri, Indonesia konsisten mendukung Palestina. Namun ketika menjadi tuan rumah event internasional, ada dilema antara prinsip politik dan komitmen olahraga global.\u00a0 Langkah ini mungkin populer di dalam negeri, tetapi menimbulkan kerugian reputasi di luar negeri.<\/p>\n<p>Kasus ini memperlihatkan <em>\u201crapuhnya netralitas olahraga di tengah konflik geopolitik&#8221;. <\/em>FIG dan IOC seharusnya memiliki mekanisme lebih tegas agar atlet tidak menjadi korban politik.<\/p>\n<p>Bagi Indonesia, sorotan internasional ini menjadi ujian terhadap citra sebagai penyelenggara ajang olahraga kelas dunia.<br \/>\nKeberhasilan logistik dan antusiasme penonton tidak menutupi kritik bahwa Indonesia gagal memenuhi standar inklusivitas global.<\/p>\n<p>Reputasi ini penting, sebab Indonesia tengah berupaya mengajukan diri sebagai tuan rumah berbagai ajang multi-event, termasuk <strong>Asian Youth Games 2030<\/strong> dan <strong>World Beach Games<\/strong>. Keputusan penolakan visa dapat memengaruhi pertimbangan federasi olahraga dunia dalam memilih Indonesia di masa depan.<\/p>\n<p>Juru bicara Kementerian Luar Negeri, <strong>Lalu Muhammad Iqbal<\/strong>, menegaskan bahwa keputusan tersebut \u201csepenuhnya berada di tangan pemerintah Indonesia\u201d dan bukan tanggung jawab panitia atau federasi.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKami menghormati prinsip universal olahraga, tetapi Indonesia punya kedaulatan dalam urusan imigrasi dan kebijakan luar negeri,\u201d ujar Iqbal saat konferensi pers di Jakarta (15\/10\/2025).<\/p><\/blockquote>\n<p>Pernyataan keprihatinan juga datang dari sejumlah komite nasional dan lembaga olahraga dunia. <strong>Olympic Committee of Germany (DOSB)<\/strong>, melalui presidennya <strong>Thomas Weikert<\/strong>, menyebut keputusan Indonesia \u201csangat disayangkan.\u201d<\/p>\n<blockquote><p>\u201cOlympic values require inclusion and fairness. Any form of exclusion on political grounds contradicts the spirit of sport,\u201d kata Weikert kepada Deutsche Welle (17\/10\/2025).<\/p><\/blockquote>\n<p>Sementara <strong>Times of Israel<\/strong> menulis editorial berjudul <em>\u201cWhen Politics Crushes Dreams\u201d<\/em>, menggambarkan kekecewaan komunitas gimnastik Israel atas absennya atlet mereka di Jakarta.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cFor these young athletes, this was not a political mission but a sporting dream. The message they receive is that their nationality defines their opportunity,\u201d tulis harian tersebut (18\/10\/2025).<\/p><\/blockquote>\n<p>Kasus Indonesia\u2013Israel ini bukan yang pertama di dunia olahraga. Pada 2019, Malaysia kehilangan status tuan rumah <strong>World Paralympic Swimming Championship<\/strong> karena menolak visa untuk atlet Israel.<br \/>\nFIFA juga pernah menangguhkan kegiatan di beberapa negara karena alasan politik-olahraga serupa.<\/p>\n<p>Namun, berbeda dengan Malaysia yang langsung dicabut haknya, FIG memilih tetap melanjutkan turnamen di Jakarta. Sikap ini memunculkan pertanyaan: sejauh mana federasi internasional bersedia menegakkan prinsip netralitas ketika berhadapan dengan tekanan politik dan kedaulatan negara.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cSport is global, but visas are national,\u201d ujar pakar hukum olahraga Swiss Peter Kaufmann. \u201cThat tension will always exist.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<h2><strong>Nasib Atlet: Antara Prinsip dan Realitas<\/strong><\/h2>\n<p>Bagi para atlet Israel, keputusan ini bukan sekadar kegagalan administratif. Mereka kehilangan kesempatan meraih poin kualifikasi menuju Olimpiade Los Angeles 2028.<br \/>\nSementara bagi atlet Indonesia dan peserta lainnya, kontroversi ini menimbulkan rasa canggung di tengah sorotan dunia.<\/p>\n<p>Salah satu peserta, <strong>Kaylia Nemour<\/strong> dari Prancis, menyatakan simpati kepada rekan-rekan Israel.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cWe train together, we compete together. It\u2019s sad when politics divides us,\u201d ujarnya kepada <strong>AFP<\/strong> (18\/10\/2025).<\/p><\/blockquote>\n<p>Penolakan visa atlet Israel menandai tantangan serius bagi dunia olahraga modern, terutama bagi negara-negara yang mencoba menyeimbangkan diplomasi luar negeri dengan komitmen internasional.<br \/>\nDi satu sisi, Indonesia menegakkan konsistensi sikap politik luar negeri terhadap Palestina; di sisi lain, keputusan ini menciptakan preseden bahwa event olahraga global dapat dibatasi oleh kebijakan politik domestik.<\/p>\n<p>Eefek reputasional mungkin baru terasa setelah event berakhir. IOC dapat meninjau kembali peluang Indonesia menjadi tuan rumah event Olimpiade atau kejuaraan dunia lain. Kredibilitas sebagai tuan rumah internasional tidak hanya diukur dari kesuksesan teknis, tetapi juga dari komitmen terhadap prinsip Olimpiade.<\/p>\n<p>Kontroversi penolakan visa bagi tim gimnastik Israel di Jakarta memperlihatkan bahwa olahraga belum sepenuhnya terlepas dari geopolitik.<br \/>\nPernyataan tegas IOC, sikap hati-hati FIG, dan keputusan final pemerintah Indonesia mencerminkan tarik-menarik antara <strong>nilai universal olahraga<\/strong> dan <strong>realitas politik nasional.<\/strong><\/p>\n<p>Bagi Indonesia, keberhasilan teknis penyelenggaraan kejuaraan dunia tidak serta-merta menutupi sorotan internasional atas isu non-diskriminasi.<br \/>\nBagi IOC dan FIG, kasus ini menjadi ujian kredibilitas dalam menegakkan Piagam Olimpiade dan memastikan bahwa olahraga tetap menjadi ruang netral bagi semua atlet \u2014 tanpa kecuali.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONA NEWS.\u00a0Jakarta,\u00a0Indonesia. \u2014 Keputusan Pemerintah Indonesia menolak pemberian visa bagi tim gimnastik Israel untuk mengikuti 2025 World Artistic Gymnastics Championships di Jakarta memicu reaksi keras dari komunitas olahraga internasional. Komite Olimpiade Internasional (IOC) menyatakan \u201ckeprihatinan besar\u201d atas langkah tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip non-diskriminasi yang menjadi dasar Piagam Olimpiade. Turnamen bergengsi itu tetap digelar [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":3505,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,33,31,3,220],"tags":[],"class_list":["post-3502","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-internasional","category-olah-raga","category-pemerintah","category-pusat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3502","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3502"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3502\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3506,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3502\/revisions\/3506"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3505"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bonanews.my.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}