BONA NEWS. Medan, Sumatera Utara. – Partai Golongan Karya (Golkar) Sumatera Utara resmi menetapkan Andar Amin Harahap sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumut periode 2025–2030 dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI yang digelar di Hotel JW Marriott Medan. Penetapan dilakukan secara aklamasi,Minggu (1/2/2026), setelah Andar Amin menjadi satu-satunya calon yang memenuhi syarat dukungan sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Golkar.

Musda XI Golkar Sumut berlangsung sejak 31 Januari hingga 2 Februari 2026 dan menjadi forum strategis partai untuk menentukan arah organisasi lima tahun ke depan. Selain pemilihan ketua, Musda juga membahas konsolidasi internal, evaluasi kinerja kepengurusan sebelumnya, serta strategi politik Golkar Sumut menghadapi agenda nasional hingga Pemilu 2029.

Dominasi Golkar di Panggung Politik Sumut

Golkar Sumut memasuki Musda XI dengan modal politik yang kuat. Berdasarkan hasil resmi Pemilu Legislatif 2024, Golkar tercatat sebagai peraih kursi terbanyak di DPRD Provinsi Sumatera Utara, yakni 22 kursi, sekaligus mengamankan posisi Ketua DPRD Sumut periode 2024–2029. Di tingkat DPR RI, Golkar juga berhasil meloloskan 8 wakil dari daerah pemilihan Sumut, sementara di level kabupaten/kota, kader Golkar menguasai ratusan kursi legislatif.
Capaian tersebut menempatkan Golkar sebagai salah satu kekuatan politik paling dominan di Sumatera Utara. Namun, dominasi elektoral itu juga membawa konsekuensi: ekspektasi publik dan tuntutan soliditas internal yang lebih tinggi.

Proses Musda dan Penetapan Ketua
Dua nama sempat mengemuka menjelang Musda XI, yakni Andar Amin Harahap, anggota DPR RI yang juga mantan kepala daerah, dan Hendri Yanto Sitorus, Bupati Labuhanbatu Utara. Namun, dalam tahapan verifikasi dukungan, hanya Andar Amin yang dinyatakan memenuhi persyaratan minimal dukungan pemilik suara sah.
Pimpinan sidang Musda kemudian menetapkan Andar Amin sebagai Ketua DPD Golkar Sumut periode 2025–2030 secara aklamasi pada Minggu malam (1/2/2026). Keputusan tersebut disahkan melalui forum Musda sebagai mekanisme tertinggi partai di tingkat provinsi.

Dalam pidato perdananya setelah ditetapkan sebagai ketua, Andar Amin Harahap menegaskan bahwa Musda XI harus menjadi titik awal konsolidasi menyeluruh bagi Golkar Sumut.

“Musda ini bukan tentang siapa yang menang atau kalah. Ini momentum untuk menyatukan seluruh kekuatan Golkar Sumatera Utara,” ujar Andar Amin, Minggu (1/2/2026).

Ia menyampaikan bahwa dinamika dan perbedaan pandangan selama proses Musda merupakan hal yang wajar dalam partai besar. Namun, menurutnya, seluruh perbedaan itu harus berakhir seiring selesainya forum Musda dan digantikan dengan semangat kolektif membangun partai.

Andar Amin juga menyinggung tanggung jawab besar Golkar sebagai partai pemenang Pemilu 2024 di Sumut. Menurutnya, kepercayaan publik harus dijawab dengan kerja nyata, kedisiplinan organisasi, serta keberpihakan pada kepentingan masyarakat.

“Golkar tidak boleh hanya kuat secara struktur, tapi juga harus hadir dalam kerja-kerja kebijakan yang dirasakan langsung oleh rakyat,” katanya.

Ia menambahkan, kepengurusan yang akan dibentuk pasca-Musda akan mengedepankan prinsip keterwakilan, profesionalisme, serta kaderisasi yang berkelanjutan. Konsolidasi hingga tingkat kecamatan dan desa disebutnya sebagai agenda mendesak dalam waktu dekat.

Sementara itu, Hendri Yanto Sitorus—yang kerap disebut Hendrianto oleh kalangan internal—menyatakan menghormati keputusan Musda XI dan penetapan Andar Amin sebagai Ketua Golkar Sumut. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjadikan Musda sebagai ruang konsolidasi yang substantif, bukan sekadar formalitas organisatoris.

“Golkar Sumut adalah partai besar. Musda seharusnya menjadi forum konsolidasi gagasan dan arah perjuangan, bukan hanya pemenuhan prosedur,” ujar Hendrianto dalam pernyataannya, Minggu (1/2/2026).

Menurut Hendrianto, kekuatan Golkar selama ini lahir dari kerja kolektif seluruh kader, baik yang berada di struktur maupun di luar lingkaran kekuasaan partai. Karena itu, ia berharap kepemimpinan baru mampu merangkul semua elemen dan mencegah fragmentasi internal.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi dalam pengambilan keputusan strategis. Menurutnya, partai modern dituntut tidak hanya solid secara struktur, tetapi juga sehat dalam demokrasi internal.

“Setelah Musda selesai, kontestasi harus diakhiri. Yang ada hanya satu Golkar Sumatera Utara,” tegasnya.

Hendrianto menyatakan tetap berkomitmen mendukung Golkar Sumut dan berharap partai dapat menjaga keunggulan politiknya hingga Pemilu 2029 melalui konsolidasi yang berkelanjutan.

Dinamika di Luar Arena Musda

Musda XI Golkar Sumut tidak sepenuhnya berlangsung tanpa dinamika. Di luar arena sidang, sempat terjadi ketegangan yang melibatkan sekelompok massa. Aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga situasi tetap kondusif agar forum Musda dapat berjalan sesuai agenda.

Meski demikian, pimpinan sidang memastikan bahwa jalannya Musda dan seluruh keputusan yang diambil tetap sah secara organisasi dan tidak terpengaruh oleh insiden di luar forum resmi.

Pasca-Musda XI, Golkar Sumut menghadapi sejumlah agenda strategis, mulai dari pembentukan kepengurusan baru, konsolidasi organisasi hingga tingkat bawah, hingga penguatan posisi politik di legislatif dan pemerintahan daerah.

Pengamat menilai, keberhasilan Andar Amin tidak hanya diukur dari legitimasi Musda, tetapi dari kemampuannya menjaga soliditas internal serta mengelola ekspektasi publik terhadap Golkar sebagai partai dominan di Sumut.
Dengan dinamika politik yang semakin kompleks dan kompetisi menuju Pemilu 2029 yang mulai menghangat, Golkar Sumut dituntut mampu mempertahankan basis dukungan sekaligus memperluas segmen pemilih baru.

Per 1 Februari 2026, Golkar Sumatera Utara resmi memasuki babak baru kepemimpinan di bawah Andar Amin Harahap. Musda XI menandai berakhirnya fase transisi dan dimulainya agenda konsolidasi partai lima tahun ke depan. Tantangan terbesar Golkar Sumut kini bukan lagi soal kontestasi internal, melainkan bagaimana mengelola kemenangan politik menjadi kerja nyata yang dirasakan masyarakat.