BONA NEWS. Medan, Sumatera Utara. – Pelaksanaan ASEAN Boys Championship AFF U-19 2026 di Sumatera Utara tidak hanya menyita perhatian karena persaingan di lapangan hijau, tetapi juga akibat polemik terkait akomodasi peserta yang mencuat di tengah berlangsungnya turnamen. Persoalan tersebut menjadi perbincangan publik setelah muncul laporan bahwa salah satu tim peserta, Timor Leste, sempat berpindah hotel akibat masalah akomodasi. Meski turnamen tetap berjalan sesuai jadwal, kejadian tersebut memicu perdebatan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas pembiayaan hotel peserta.
Kisruh mulai mengemuka pada awal Juni 2026 ketika sejumlah pihak memberikan keterangan berbeda terkait komitmen pembiayaan akomodasi peserta turnamen.
Pada Selasa, 2 Juni 2026, Sekretaris Daerah Kota Medan Wiriya Alrahman menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan tidak pernah memiliki komitmen untuk membiayai hotel maupun penginapan peserta AFF U-19.
Menurut Wiriya, sejak awal pembahasan antara Pemko Medan dan penyelenggara hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas pertandingan, termasuk pembenahan Stadion Teladan dan sejumlah lapangan latihan yang digunakan selama kompetisi berlangsung.
“Tidak pernah ada pembicaraan ataupun kesepakatan yang mengatur bahwa Pemerintah Kota Medan akan menanggung biaya akomodasi seluruh peserta turnamen” kata Wirya.
Namun pada hari yang sama, pernyataan berbeda disampaikan Sekretaris Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sumatera Utara, Yosephine Sembiring. Yosephine mengatakan pihaknya mengetahui adanya komitmen terkait akomodasi yang melibatkan panitia lokal dan Wali Kota Medan. Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian publik karena bertolak belakang dengan penjelasan yang disampaikan Pemerintah Kota Medan.
“Persoalan tersebut seharusnya tidak terjadi mengingat turnamen internasional membawa nama baik daerah dan Indonesia sebagai tuan rumah”, jelas Yosephine.
Perbedaan pandangan antara kedua pihak kemudian semakin menghangat ketika Wali Kota Medan Rico Waas memberikan klarifikasi resmi pada Rabu, 3 Juni 2026.
Dalam keterangannya, Rico menegaskan bahwa sejak awal tidak pernah ada komitmen dari Pemko Medan untuk membiayai hotel peserta AFF U-19.
Ia menjelaskan bahwa sejak pertemuan-pertemuan awal dengan PSSI yang berlangsung sejak Februari hingga Mei 2026, fokus pembahasan hanya berkaitan dengan percepatan pembenahan Stadion Teladan serta fasilitas pendukung pertandingan lainnya.
“Surat permintaan dukungan pembiayaan akomodasi baru diterima Pemerintah Kota Medan pada 24 Mei 2026 atau sekitar sepekan sebelum turnamen dimulai” ujar Rico.
Ia menilai permintaan tersebut tidak dapat langsung direalisasikan karena penggunaan anggaran daerah harus mengikuti mekanisme dan ketentuan hukum yang berlaku.
Rico juga membantah anggapan bahwa Pemerintah Kota Medan mengingkari janji atau lepas tangan terhadap penyelenggaraan AFF U-19. Ia menegaskan bahwa seluruh tanggung jawab yang menjadi kewenangan pemerintah daerah telah dijalankan, terutama terkait penyediaan dan pembenahan fasilitas pertandingan.
Di tengah perbedaan keterangan tersebut, PSSI Sumut bersama panitia lokal akhirnya mengambil langkah untuk memastikan seluruh peserta tetap mendapatkan fasilitas akomodasi yang memadai.
Pada Rabu, 3 Juni 2026, PSSI Sumut memastikan bahwa pihaknya bersama panitia lokal mengambil alih tanggung jawab pembiayaan akomodasi peserta agar pelaksanaan turnamen tidak terganggu. Langkah tersebut dilakukan demi menjaga kelancaran kompetisi serta menghindari dampak yang lebih luas terhadap citra Indonesia sebagai tuan rumah ajang sepak bola tingkat Asia Tenggara.
Polemik ini juga memunculkan pertanyaan mengenai koordinasi antarlembaga dalam penyelenggaraan event internasional. Sejumlah kalangan menilai bahwa pembagian tugas, tanggung jawab, dan sumber pembiayaan seharusnya disepakati secara rinci sejak awal agar tidak menimbulkan perbedaan tafsir ketika turnamen berlangsung.
Terlebih, Medan dan Deli Serdang dipercaya menjadi tuan rumah pertandingan yang melibatkan sejumlah negara peserta. Kesiapan penyelenggaraan tidak hanya diukur dari kualitas stadion dan lapangan latihan, tetapi juga dari aspek pendukung seperti transportasi, keamanan, serta akomodasi peserta.
Hingga kini, inti persoalan masih berada pada perbedaan klaim mengenai keberadaan komitmen pembiayaan hotel peserta.
Pemerintah Kota Medan tetap menyatakan tidak pernah membuat komitmen tersebut. Sebaliknya, PSSI Sumut menyebut pihaknya mengetahui adanya komitmen yang melibatkan panitia lokal dan Wali Kota Medan.
Sampai saat ini belum ada dokumen resmi yang dipublikasikan kepada masyarakat yang dapat menjawab secara pasti perbedaan klaim tersebut.
Meski demikian, turnamen AFF U-19 2026 tetap berlangsung sesuai agenda. Para peserta terus menjalani pertandingan dan aktivitas kompetisi sebagaimana yang telah dijadwalkan sebelumnya. Kisruh akomodasi yang terjadi akhirnya menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan event olahraga internasional. Kejelasan komunikasi, kepastian tanggung jawab, serta kesepakatan tertulis yang kuat dinilai menjadi faktor penting agar persoalan serupa tidak kembali terulang pada masa mendatang.
Bagi banyak pihak, polemik hotel peserta AFF U-19 2026 bukan hanya soal biaya penginapan, melainkan juga cerminan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam menjaga reputasi daerah dan Indonesia sebagai penyelenggara ajang internasional.
