BONA NEWS. Shenzhen, China. — Fenomena demam emas yang melanda pasar investasi ritel China dalam beberapa bulan terakhir berakhir dengan krisis serius. Salah satu platform investasi emas digital terbesar, Jie Wo Rui (JWR), membekukan penarikan dana investor, menimbulkan kerugian besar bagi ribuan nasabah dan memicu gelombang protes publik. Kejadian ini menjadi sorotan nasional karena menyoroti risiko instrumen investasi digital yang tumbuh lebih cepat daripada regulasi yang mengaturnya.
Lonjakan Permintaan Emas Digital
Sejak akhir 2025, harga emas dunia mencatat kenaikan signifikan, mendorong investor ritel China berbondong-bondong membeli emas digital melalui platform online. Fenomena ini tidak hanya dipicu oleh euforia harga, tetapi juga oleh ketidakpastian ekonomi domestik dan global. Banyak investor muda yang baru pertama kali memasuki dunia investasi online melihat emas sebagai safe haven.
Menurut data World Gold Council, permintaan emas di China pada 2025 mencapai rekor tertinggi, dengan pertumbuhan signifikan pada emas batangan dan koin dibanding perhiasan. Pergeseran ini menunjukkan minat investor beralih dari simbol status menjadi instrumen penyimpan nilai.
JWR Ambruk, Jie Wo Rui, beroperasi di Shenzhen, salah satu pusat perdagangan emas terbesar di China, menjadi pusat krisis setelah gagal memenuhi permintaan penarikan dana dari investornya. Ribuan nasabah mendapati rekening mereka dibekukan atau dibatasi, sehingga tidak dapat menarik modal maupun mengakses emas fisik yang dibeli.
Estimasi awal menunjukkan nilai dana yang tertahan mencapai lebih dari 10 miliar yuan (sekitar Rp 23–30 triliun). Banyak investor ritel mengaku terkejut karena model bisnis platform tampak menguntungkan namun sesungguhnya tidak didukung cadangan emas fisik yang memadai, melainkan kontrak internal berbasis harga emas.
Penyebab Krisis Likuiditas
Krisis likuiditas terjadi ketika banyak investor mencoba mencairkan aset secara bersamaan. Produk berleverage tinggi yang ditawarkan JWR memungkinkan modal kecil mengambil posisi besar di pasar emas digital. Ketika permintaan penarikan melonjak, platform tidak mampu memenuhi kewajiban finansial, sehingga memicu pembekuan dana dan opsi kompensasi yang dianggap tidak adil oleh sebagian besar korban.
Opsi yang ditawarkan termasuk pengembalian 20% secara sekaligus atau cicilan 40% selama 12 bulan, jauh di bawah modal awal. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan luas di kalangan investor ritel.
Pembekuan dana memicu aksi protes di luar kantor pusat JWR di distrik Luohu, Shenzhen. Ribuan investor berkumpul menuntut pengembalian dana dan transparansi. Aparat kepolisian setempat turun tangan untuk mengendalikan situasi.
Pemerintah kota Shenzhen membentuk satuan tugas khusus untuk menyelidiki praktik bisnis JWR, termasuk potensi pelanggaran hukum dan ketentuan investasi digital. Otoritas menegaskan perlunya perlindungan investor serta pengawasan lebih ketat terhadap platform digital.
Krisis JWR menimbulkan kerugian finansial dan mengguncang kepercayaan publik terhadap platform investasi digital. Investor kini menyadari risiko tinggi instrumen berbasis teknologi yang kurang transparan. Beberapa analis memprediksi minat investor ritel terhadap platform digital serupa akan menurun sementara, dan terjadi pergeseran kembali ke emas fisik atau aset tradisional yang lebih aman.
Selain itu, insiden ini berdampak pada stabilitas pasar lokal, karena kerugian investor yang besar dapat memengaruhi konsumsi dan kegiatan ekonomi di wilayah Shenzhen dan sekitarnya.
Kasus ini menekankan pentingnya regulasi dan edukasi investor. Model bisnis berleverage tinggi tanpa dukungan aset nyata rentan terhadap risiko likuiditas. Investor diingatkan untuk memahami struktur dan risiko produk sebelum menempatkan dana, sementara regulator harus menegakkan standar lisensi, cadangan likuiditas, dan perlindungan konsumen yang memadai.
Fenomena demam emas di China kini menjadi contoh nyata bagaimana euforia investasi tanpa pengawasan dapat berbalik menjadi bencana finansial, menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat dan menimbulkan tantangan baru bagi pemerintah dalam mengatur ekosistem investasi digital.
Runtuhnya JWR menegaskan bahwa fenomena demam emas tidak hanya soal euforia harga atau minat investasi, tetapi juga risiko nyata terhadap dana investor dan stabilitas pasar. Ribuan investor ritel kini menghadapi kerugian besar, protes publik terus berlangsung, dan pemerintah lokal berupaya mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Insiden ini menjadi peringatan global bagi investor dan regulator: pertumbuhan cepat instrumen digital harus dibarengi pengawasan ketat dan kesadaran risiko yang tinggi, agar peluang investasi tidak berubah menjadi krisis yang merugikan publik
