BONA NEWS. Medan, Sumatera Utara.  – Sumatra Utara (Sumut) mencatatkan rekor baru dalam realisasi investasi pada semester pertama 2025. Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumut, Chandra Dalimunthe, dalam konferensi pers di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Senin (29/9/2025), total investasi yang masuk mencapai Rp28,41 triliun.

Capaian ini terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp11,977 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp16,434 triliun.

“Ini capaian yang sangat positif. Semester pertama 2025 kita sudah menembus lebih dari Rp28 triliun, dan kami optimis target tahunan bisa tercapai,” ujar Chandra Dalimunthe.

Simalungun Jadi Magnet Utama

Dari seluruh daerah, Kabupaten Simalungun tampil sebagai penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp11,98 triliun. Porsi ini setara dengan lebih dari 42 persen total investasi Sumut.

Chandra menjelaskan, dominasi Simalungun tidak lepas dari keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. KEK ini menjadi pusat hilirisasi kelapa sawit dan industri kimia, serta terus menarik minat investor asing, terutama dari Tiongkok, Singapura, dan Korea Selatan.

“Sei Mangkei adalah lokomotif investasi kita. Hilirisasi kelapa sawit dan turunannya memberi kontribusi signifikan,” jelas Chandra.

Medan dan Deliserdang Ikut Mendominasi

Di posisi kedua, Kota Medan menyumbang sekitar Rp6,07 triliun. Investasi ini didominasi sektor properti, perdagangan, perhotelan, serta jasa keuangan.

“Medan tetap menjadi pusat perdagangan dan jasa, sehingga sektor properti dan ritel modern sangat dominan,” kata Chandra.

Sementara itu, Kabupaten Deliserdang mencatat investasi Rp3,21 triliun, banyak masuk ke industri pengolahan, logistik, dan pergudangan. Lokasi yang strategis dekat Bandara Kualanamu menjadi faktor penarik utama.

Tapanuli Selatan: Pertambangan dan Energi

Kabupaten Tapanuli Selatan menempati posisi berikutnya dengan Rp2,31 triliun. Investasi di wilayah ini terutama bergerak di sektor pertambangan emas dan energi terbarukan.

Selain itu, potensi wisata alam seperti Danau Siais juga mulai menarik perhatian investor sektor pariwisata.

Batubara Paling Rendah

Berbanding terbalik, Kabupaten Batubara mencatat nilai investasi terkecil, yakni hanya Rp534,42 miliar.

Padahal, Batubara memiliki keunggulan geografis karena dekat dengan Pelabuhan Kuala Tanjung, salah satu proyek strategis nasional. Namun, keterbatasan infrastruktur penunjang, birokrasi yang belum efisien, serta promosi daerah yang minim disebut sebagai penghambat.

“Batubara sebenarnya punya potensi maritim dan perikanan. Namun memang belum maksimal dalam menarik investor,” kata seorang pengamat kebijakan publik dari Medan, Senin (29/9/2025).

Menurut data DPMPTSP Sumut, sektor dengan nilai investasi terbesar pada semester I tahun 2025 adalah:

  • Transportasi, Pergudangan, dan Telekomunikasi – Rp7,76 triliun
  • Industri Pengolahan – Rp6,5 triliun (terutama hilirisasi sawit di Sei Mangkei)
  • Properti dan Konstruksi – Rp4,2 triliun
  • Perdagangan Besar & Eceran – Rp3,9 triliun

Kombinasi sektor-sektor ini menjadi fondasi utama pertumbuhan investasi di Sumut.

Faktor Pendorong Investasi

Ada sejumlah faktor yang menjadikan Sumut semakin dilirik investor:

  1. Lokasi strategis – Dekat dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka.
  2. Dukungan infrastruktur – Kehadiran tol Trans-Sumatra, Pelabuhan Belawan, dan Bandara Kualanamu.
  3. Insentif pemerintah – Chandra menyebut adanya keringanan pajak seperti PKB, PAB, dan PAP, serta perizinan online melalui OSS dan aplikasi Siap Layani.
  4. Kawasan industri – KEK Sei Mangkei dan Kawasan Industri Kuala Tanjung menjadi motor utama.

Meski capaian investasi tinggi, sejumlah tantangan masih mengemuka:

  • Ketimpangan wilayah: Investasi masih terkonsentrasi di Simalungun, Medan, dan Deliserdang.
  • Birokrasi: Beberapa daerah masih memiliki prosedur perizinan rumit.
  • Tenaga kerja terampil: Industri modern sering kesulitan mencari SDM sesuai kebutuhan.
  • Sengketa lahan: Masalah klasik yang kerap memperlambat realisasi investasi.

Prospek Semester II dan Target Tahun 2025

Pemerintah Provinsi Sumut menargetkan total investasi tahun 2025 bisa menembus Rp53,67 triliun. Hingga semester pertama, capaian sudah 60 persen dari target.

“Dengan tren positif ini, kami yakin target Rp53,67 triliun dapat tercapai. Bahkan, jika semester kedua lebih agresif, bisa melewati target,” ujar Chandra dalam kesempatan yang sama.

Proyek strategis yang diharapkan memperkuat investasi semester II antara lain:

  • Perluasan KEK Sei Mangkei.
  • Pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung.
  • Proyek energi baru terbarukan di Tapanuli.
  • Pengembangan pariwisata Danau Toba sebagai destinasi super prioritas.

Ekonom Universitas Sumatera Utara menilai, kunci keberlanjutan investasi di Sumut bukan hanya pada angka besar, tetapi juga pada pemerataan antarwilayah.

“Kalau hanya Simalungun, Medan, dan Deliserdang yang menikmati, maka ketimpangan akan meningkat. Pemerintah perlu memberi stimulus khusus ke daerah yang kontribusinya masih kecil seperti Batubara,” ujarnya.

Realisasi investasi Sumut semester I 2025 sebesar Rp28,41 triliun menjadi capaian bersejarah. Dengan Simalungun sebagai primadona, Medan dan Deliserdang sebagai pusat industri dan perdagangan, serta Batubara yang masih tertinggal, peta investasi Sumut menunjukkan potensi besar sekaligus tantangan.

Dengan dukungan infrastruktur, kawasan industri, dan kebijakan insentif, optimisme untuk menembus target Rp53,67 triliun di akhir 2025 semakin terbuka lebar.