BONA NEWS. Jakarta, Indomesia. – Grup negara pengekspor minyak dan sekutunya yang tergabung dalam OPEC+ (Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus) resmi memutuskan untuk menaikkan produksi minyak mentah mulai Oktober 2025. Namun, kenaikan kali ini bersifat moderat, jauh lebih kecil dibandingkan langkah-langkah sebelumnya.
Dalam pertemuan tingkat menteri di Wina dan Riyadh, Jumat (3/10/2025), OPEC+ menyepakati penambahan kuota produksi sebesar 137.000 barel per hari (bpd). Kenaikan ini menjadi bagian dari proses bertahap untuk mengakhiri pemangkasan produksi sukarela yang berlaku sejak pandemi COVID-19.
“Kenaikan produksi kali ini adalah bagian dari strategi jangka panjang OPEC+ untuk memastikan keseimbangan pasar, melindungi pendapatan negara anggota, sekaligus menghindari gejolak harga yang berlebihan,” ujar Haitham Al Ghais, Sekretaris Jenderal OPEC, dalam konferensi pers usai pertemuan, dikutip dari Reuters.
Pada 2020, OPEC+ memangkas produksi hingga 9,7 juta bpd, pemangkasan terbesar dalam sejarah, guna menahan kejatuhan harga minyak akibat pandemi. Kebijakan itu terbukti ampuh mengangkat harga kembali ke level yang menguntungkan bagi produsen.
Namun, setelah ekonomi global mulai pulih, OPEC+ secara perlahan menyesuaikan kembali produksinya. Meski demikian, gejolak geopolitik, perang, dan perlambatan ekonomi membuat kelompok ini mengambil sikap hati-hati.
Perdebatan Internal: Arab Saudi vs Rusia
Kesepakatan Oktober 2025 tidak lepas dari tarik-menarik antara dua pemain utama, Arab Saudi dan Rusia.
Arab Saudi mendorong kenaikan yang lebih moderat. Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, menegaskan:
“Kami belajar dari pengalaman. Lebih baik menaikkan produksi sedikit demi sedikit, sambil mengamati reaksi pasar, daripada mengambil langkah besar yang bisa mengguncang stabilitas,” kata Abdulaziz, dilansir Financial Times.
Sebaliknya, Rusia menginginkan kenaikan lebih cepat. Alexander Novak, Wakil Perdana Menteri Rusia yang juga membidangi energi, menyatakan:
“Pasar global masih mampu menyerap tambahan pasokan. Jika kita terlalu konservatif, kita akan kehilangan pangsa pasar kepada produsen non-OPEC, khususnya Amerika Serikat,” tegas Novak, dikutip Reuters.
Sejumlah analis meyakini OPEC+ akan tetap berhati-hati. Goldman Sachs memperkirakan tambahan kuota sekitar 140.000 bpd lagi pada November 2025.
“OPEC+ tampaknya ingin melakukan normalisasi secara hati-hati. Mereka tidak ingin melihat harga minyak jatuh terlalu cepat, namun juga sadar bahwa pasar membutuhkan tambahan pasokan,” tulis laporan riset Goldman Sachs.
Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) memprediksi kenaikan produksi akan menambah persediaan minyak global pada kuartal IV 2025. Hal ini bisa menekan harga Brent ke kisaran USD 75–80 per barel, dibanding rata-rata USD 87 pada kuartal sebelumnya.
Sejak pekan terakhir September, harga minyak dunia menunjukkan tren melemah. Data Reuters mencatat harga minyak Brent pada 3 Oktober 2025 berada di kisaran USD 81 per barel, turun hampir 7% dibanding pekan sebelumnya.
Menurut analis energi dari Rystad Energy, Louise Dickson:
“Pasar membaca sinyal bahwa pasokan akan bertambah, sementara permintaan mungkin tidak tumbuh secepat itu. Kombinasi ini mendorong harga turun, meskipun belum masuk ke level krisis,” kata Dickson, dilansir Bloomberg.
Dampak ke Indonesia: APBN Bisa Bernapas Lega
Indonesia, sebagai negara net importir minyak, ikut mencermati keputusan OPEC+.
Kepala BPH Migas, Erfansyah, menilai dampaknya relatif positif:
“Kalau harga minyak dunia lebih terkendali, itu membantu APBN kita dalam hal subsidi energi. Namun, kita juga harus siap menghadapi fluktuasi. Stabilitas harga tidak sepenuhnya bisa dijamin,” ujarnya di Jakarta.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menambahkan:
“Harga BBM di Indonesia lebih dipengaruhi oleh kebijakan subsidi dan formula harga pemerintah. Namun, tren global tetap penting sebagai acuan jangka menengah,” katanya.
Keputusan OPEC+ ini juga mencerminkan tekanan dari konsumen besar. Amerika Serikat, India, dan Tiongkok mendesak OPEC+ agar tidak terlalu lama menahan pasokan.
Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, Adrienne Watson, mengatakan:
“Kami percaya bahwa pasar energi yang stabil adalah kepentingan bersama. Kami akan terus berdialog dengan mitra di Timur Tengah mengenai langkah ke depan,” ujarnya, dilansir Washington Post.
Meski saat ini fokus pada keseimbangan pasar, OPEC+ tidak bisa mengabaikan isu transisi energi.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, mengingatkan:
“Ini paradoks bagi OPEC+. Dunia akan beralih ke energi terbarukan, tapi kebutuhan fiskal negara anggota membuat mereka tetap bergantung pada minyak.”
Menurut IEA, permintaan minyak global diperkirakan masih tumbuh hingga 2027 sebelum mulai melandai, terutama karena kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Keputusan OPEC+ menaikkan produksi sebesar 137.000 bpd pada Oktober 2025 menunjukkan strategi kompromi: Arab Saudi menahan laju, Rusia mendorong percepatan, sementara pasar menunggu dampaknya.
Harga minyak kemungkinan akan stabil di kisaran USD 75–85 per barel hingga akhir 2025, tergantung pada permintaan global dan konsistensi anggota OPEC+ dalam menjalankan kesepakatan.
Seperti ditegaskan oleh Sekjen OPEC, Haitham Al Ghais:
“Kami tidak sekadar produsen, kami penjaga stabilitas energi dunia. Setiap langkah yang kami ambil selalu mempertimbangkan keseimbangan jangka panjang.”
