BONA NEWS. Medan, Sumatera Utara. — Rumah disalah satu daerah  sempit kumuh di Kota Medan, Sangual (42) menatap kalender dinding sambil menghitung biaya sekolah anaknya dan perawatan orang tuanya yang mulai menua.

­“Rasanya seperti hidup saya terbagi dua. Setiap rupiah dan waktu harus diatur sedemikian rupa,” katanya sambil tersenyum tipis, Rabu (22/10/2025)

Sangual adalah salah satu contoh nyata dari generasi sandwich, istilah yang digunakan untuk orang dewasa yang berada di posisi menanggung dua beban sekaligus: merawat orang tua dan membiayai anak-anak mereka.

Fenomena ini bukan sekadar masalah pribadi. Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) memperkirakan ada sekitar 71 juta orang Indonesia yang termasuk generasi sandwich, atau sekitar 25% dari total populasi. Mereka berada di usia produktif, antara 30–50 tahun, namun harus menanggung beban finansial dan emosional yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.

Beban Finansial yang Meningkat

Biaya hidup yang semakin tinggi menjadi tekanan utama bagi generasi sandwich. Survei YouGov Indonesia 2025 menunjukkan bahwa 46% responden mengaku penghasilan mereka stagnan, sementara kebutuhan hidup, pendidikan anak, dan biaya perawatan orang tua terus meningkat. Rata-rata, generasi sandwich mengalokasikan 40–60% penghasilan untuk memenuhi kedua tanggung jawab ini.

Siti (39), seorang guru di Deli Serdang, menceritakan pengalamannya:

“Kalau tidak bekerja lembur atau mengajar kursus tambahan, biaya kuliah anak saya yang naik terus tidak akan terpenuhi. Kadang saya merasa kelelahan, tapi saya tidak punya pilihan lain.” katanya, Rabu (22/10/2025)

Selain itu, survei yang sama menemukan bahwa 62% generasi sandwich menggunakan pinjaman untuk menutupi kebutuhan hidup. Sebagian meminjam dari keluarga, sebagian lagi memanfaatkan layanan paylater atau kartu kredit. Tekanan finansial ini menambah stres kronis, yang memengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka.

Menurut YouGiv Indonesia, di tahun 2025 Generasi Sandwich rasio tingkat meminjam meningkat dari berbagai sektor, seperti :

  • 24% meminjam dari keluarga/teman
  • 22% paylater
  • 16% kartu kredit
  • 15% menjual/menjajakan barang berharga
  • 13% meminjam dari bank
  • 11% layanan fintech

Dampak Psikologis dan Sosial

Beban ganda ini tidak hanya soal uang, tetapi juga soal emosi.  Generasi sandwich memiliki tingkat stres 25–30% lebih tinggi dibanding kelompok usia lain. Banyak yang mengalami kecemasan kronis, insomnia, dan depresi ringan akibat harus selalu berada dalam posisi “memberi” kepada orang tua dan anak secara bersamaan.

Fenomena ini diperparah oleh urbanisasi dan mengecilnya keluarga inti. Banyak generasi sandwich tinggal jauh dari orang tua mereka, sehingga perawatan menjadi lebih rumit dan memakan waktu. Seperti halnya, Longgom Nasution (45) harus bolak-balik antara rumah orang tuanya di Mandailing Natal dan rumahnya di kota Medan untuk mengurus orang tua sekaligus anak-anaknya.

“Kadang saya merasa seperti hidup saya terpecah dua,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).

Harapan Hidup yang Meningkat, Beban Bertambah

Menurut Kemenkes 2025, harapan hidup di Indonesia kini mencapai 73,7 tahun, naik dari 70,7 tahun pada 2010. Longevity ini berarti orang tua membutuhkan perawatan lebih lama, sehingga beban generasi sandwich meningkat.

Sementara itu, biaya pendidikan terus melonjak. Universitas negeri mematok biaya Rp 8–15 juta per semester, sedangkan universitas swasta bisa mencapai Rp 30–50 juta per semester, belum termasuk biaya hidup. Tekanan ini membuat banyak orang tua generasi sandwich harus bekerja lebih keras atau menunda tabungan pensiun mereka.

Rasio Ketergantungan dan Implikasinya

Rasio ketergantungan penduduk Indonesia 2025 diperkirakan mencapai 47,2%, menurut BPS. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung 47–48 orang non-produktif, baik itu anak-anak maupun lansia. Kondisi ini membuat tekanan ekonomi generasi sandwich semakin nyata, karena mereka harus menjadi tulang punggung keluarga dalam dua arah sekaligus.

Strategi Menghadapi Tekanan Hidup

Meski berat, generasi sandwich menemukan berbagai cara bertahan:

  1. Perencanaan Keuangan Matang
    Banyak yang menyusun anggaran bulanan, memprioritaskan kebutuhan mendesak, dan menyiapkan tabungan pensiun. Asuransi kesehatan dan pendidikan anak menjadi alat penting untuk mengurangi risiko finansial.
  2. Pemanfaatan Teknologi
    Aplikasi kesehatan untuk memantau kondisi orang tua, platform e-learning untuk anak, dan layanan belanja online membantu menghemat waktu dan energi. Yugo dari Kota Tebing Tinggi  mengatakan, “Dengan aplikasi, saya bisa memantau tekanan darah ibu saya dari jauh dan memastikan anak-anak mengikuti pelajaran tanpa harus berada di dua tempat sekaligus.”
  3. Dukungan Sosial dan Emosional
    Bergabung dengan komunitas generasi sandwich memungkinkan berbagi pengalaman dan solusi. Salah satu contoh adalah Wiwid, Ibu Rumah Tangga di Kota Medan, aktif di forum online yang membahas tips mengelola tekanan hidup dan kesehatan mental. “Tahu ada orang lain yang mengalami hal sama membuat saya merasa tidak sendirian,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).
  4. Pembagian Tugas Keluarga
    Mengatur tanggung jawab secara adil antara pasangan atau anggota keluarga lain membantu meringankan beban. Studi menunjukkan keluarga yang berhasil membagi tugas memiliki tingkat stres lebih rendah dan kualitas hidup lebih baik.

Cerita Nyata: Hidup di Tengah Tekanan

Di Kota Medan, Eko (43) mengurus kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia sekaligus lima anak remajanya. Setiap pagi dia bekerja di kantor swasta, sore hari membantu orang tua berobat, dan malam menyiapkan tugas sekolah anak-anak.

“Kadang saya hanya tidur empat jam sehari. Tapi melihat mereka sehat dan bahagia, itu memberi saya kekuatan,” kata Eko, Rabu. (22/10/2025).

Cerita seperti ini menunjukkan realitas generasi sandwich yang jarang terlihat di media. Mereka bekerja keras di balik layar, menghadapi tekanan finansial, fisik, dan emosional, namun tetap mencoba menjaga keharmonisan keluarga.

Fenomena generasi sandwich bukan masalah individu saja, tapi isu sosial-ekonomi serius. Pemerintah perlu menyediakan layanan dukungan, subsidi pendidikan, serta perawatan lansia yang mudah diakses. Dukungan ini akan mengurangi tekanan dan mencegah masalah kesehatan mental yang lebih parah.

Beberapa kota besar sudah mulai menginisiasi program perawatan lansia, kursus parenting, dan subsidi pendidikan. Namun cakupannya masih terbatas, sehingga banyak generasi sandwich yang belum tersentuh layanan ini.

Generasi sandwich adalah potret nyata dari tantangan hidup modern di Indonesia 2025. Mereka berjuang di tengah tekanan ekonomi, tanggung jawab keluarga, dan waktu yang terbatas. Dengan perencanaan finansial, dukungan sosial, teknologi, dan kebijakan publik yang tepat, beban ini bisa dikelola.

Fenomena ini mengingatkan masyarakat bahwa generasi produktif membutuhkan dukungan agar tetap sehat, produktif, dan mampu membahagiakan orang tua serta anak-anak mereka. Generasi sandwich adalah pilar keluarga dan masyarakat; memahami dan mendukung mereka adalah investasi sosial yang tidak boleh diabaikan.