BONA NEWS. Medan, Sumatera Utara. – Setelah banjir yang melanda beberapa wilayah pada Desember 2025 dan cuaca panas akhir-akhir ini, banyak warga Kota Medan mengeluhkan nyamuk yang menyerbu rumah-rumah mereka. Fenomena ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko kesehatan, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD). Warga berharap Pemerintah Kota (Pemko) Medan segera bergerak cepat untuk menanggulangi masalah ini.

Warga Resah Karena Nyamuk

Sejumlah warga mengaku resah akibat serbuan nyamuk yang meningkat drastis sejak akhir tahun lalu. Ibu Rina, warga Medan Helvetia, menceritakan pengalamannya:

“Sejak banjir bulan Desember, nyamuk di rumah sangat banyak. Anak-anak sampai digigit hampir setiap malam. Tidur jadi terganggu, dan kami harus menyalakan obat nyamuk sepanjang malam,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).

Pak Adi, warga Medan Timur, menambahkan:
“Genangan air pasca banjir di pekarangan dan selokan masih banyak. Nyamuk terlihat lebih agresif dan menggigit hampir semua anggota keluarga. Kami berharap pemerintah segera melakukan pengasapan atau tindakan nyata lainnya.”

Fenomena ini membuat banyak warga khawatir, meski belum ada laporan resmi yang menunjukkan lonjakan kasus DBD di awal tahun 2026.

Fenomena Nyamuk: Dampak Sisa Banjir dan Cuaca Panas

Kondisi saat ini merupakan kombinasi sisa banjir dan cuaca panas yang ideal bagi nyamuk berkembang biak.

“Meski musim hujan telah berlalu, genangan air pasca banjir tetap menjadi tempat sempurna bagi nyamuk Aedes aegypti bertelur. Udara panas mempercepat siklus hidup nyamuk, sehingga populasi mereka meningkat lebih cepat dan aktivitas menggigit lebih agresif,” jelas Dr. Hendra.

Nyamuk Aedes aegypti dikenal aktif pada siang hingga sore hari, dan hanya membutuhkan air sedikit untuk bertelur. Oleh karena itu, rumah-rumah dengan bak penampungan air, pot bunga, selokan, atau genangan air bekas banjir menjadi lokasi utama berkembang biaknya nyamuk ini.

Data Desember 2025: Risiko yang Masih Ada

Meski jumlah kasus DBD per bulan Desember 2025 di Medan belum dipublikasikan secara rinci, surveilans kesehatan pascabanjir di Sumatera Utara mencatat adanya suspek DBD hingga awal Desember. Namun, penyakit yang paling dominan pada pascabanjir adalah ISPA dan penyakit kulit akibat lingkungan lembap, dikutip databoks.katadata.co.id

Secara historis, Kota Medan merupakan wilayah endemis DBD. Data Dinkes Sumut mencatat:
Tahun 2023, Medan tercatat 965 kasus DBD, termasuk beberapa kematian.
Tahun 2025, tercatat 679 kasus DBD sepanjang Januari–Juli.

Banyaknya nyamuk bukan sekadar gangguan kenyamanan. Meski belum ada laporan lonjakan kasus DBD saat ini, tetap waspada karena musim panas dan genangan pasca banjir bisa meningkatkan risiko penyakit berbasis nyamuk.

Pemko Medan Diminta Bergerak Cepat
Fenomena ini menimbulkan harapan agar Pemko Medan segera melakukan langkah cepat. Tenaga kesehatan dan warga setempat menekankan beberapa tindakan mendesak:
– Fogging di lokasi rawan jentik nyamuk – terutama di area bekas banjir dan genangan air.
– Pembersihan selokan dan saluran air yang tersumbat, karena menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
– Peningkatan sosialisasi dan edukasi kepada warga mengenai cara mencegah nyamuk dan risiko DBD.

Masyarakat Kota Medan mendorong Pemko Medan dan jajaran kecamatan untuk segera menindaklanjuti titik-titik rawan genangan air pasca banjir, agar populasi nyamuk dapat ditekan dan risiko penyakit dapat diminimalisir.

Tindakan Preventif Warga

Sementara menunggu respons Pemko Medan, warga dianjurkan tetap melakukan langkah preventif di rumah masing-masing:

– Terapkan 3M Plus: menguras, menutup, mengubur tempat penampungan air, dan pengasapan di titik jentik tinggi bila perlu.
– Bersihkan selokan, bak air, dan pekarangan dari genangan air.
– Gunakan kelambu, repellent, dan obat nyamuk untuk melindungi diri dan keluarga.
– Pantau kesehatan keluarga; segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit jika muncul gejala demam tinggi, nyeri otot, ruam, atau perdarahan.

Serbuan nyamuk di rumah warga Medan saat ini merupakan efek sisa banjir Desember 2025 dan cuaca panas akhir Januari 2026. Fenomena ini menimbulkan keresahan warga, yang meminta Pemko Medan bergerak cepat melakukan fogging, pembersihan lingkungan, dan edukasi pencegahan.
Meskipun belum ada lonjakan kasus DBD signifikan di awal 2026, kewaspadaan tetap diperlukan. Dengan aksi cepat dari pemerintah dan kesadaran warga untuk menjaga lingkungan, risiko nyamuk dan penyakit yang ditularkannya dapat ditekan, serta rumah warga kembali nyaman dan aman dari gigitan nyamuk.