BONA NEWS. Singapura.  – Organisasi kepolisian internasional INTERPOL menggelar konferensi kawasan Asia di Singapura pada Rabu + Kamis, 18 – 19 September 2025 yang dihadiri oleh 165 peserta dari 49 negara. Forum ini mempertemukan kepala kepolisian, pejabat senior penegak hukum, hingga pakar keamanan internasional untuk membahas ancaman kejahatan lintas batas yang semakin kompleks.

Dilansir dari rilis resmi INTERPOL (19/9/2025), konferensi tersebut menyoroti empat isu besar: kejahatan siber, perdagangan manusia, narkoba sintetis, dan perdagangan satwa liar. Semua isu ini dianggap sebagai ancaman nyata yang membahayakan keamanan kawasan Asia Pasifik sekaligus stabilitas global.

Asia adalah kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia. Namun, perkembangan teknologi, urbanisasi, serta mobilitas lintas negara juga membuka peluang bagi sindikat kriminal.

Menurut INTERPOL, kejahatan transnasional di Asia tidak lagi bersifat lokal, tetapi melibatkan jaringan lintas benua, memanfaatkan teknologi digital, dark web, dan cryptocurrency. Tanpa kolaborasi internasional, mustahil bagi aparat hukum di satu negara saja untuk mengatasinya.

Konferensi INTERPOL Asia di Singapura menjadi wadah penting untuk:

  • Pertukaran informasi intelijen real-time.
  • Koordinasi operasi gabungan.
  • Penguatan kapasitas forensik digital.
  • Peneguhan komitmen melawan sindikat kriminal lintas negara.

Fokus Utama Konferensi

1. Kejahatan Siber

Kejahatan siber (cybercrime) menjadi topik prioritas. Dilansir dari INTERPOL (19/9/2025), jumlah serangan siber lintas negara di Asia meningkat lebih dari 40% pada periode 2024–2025.

Ancaman yang paling banyak dibahas meliputi:

  • Ransomware: peretasan sistem komputer dengan permintaan tebusan dalam bentuk mata uang kripto.
  • Phishing dan penipuan daring: sindikat kriminal kini menggunakan AI dan deepfake untuk mengelabui korban.
  • Serangan pada infrastruktur kritis: perbankan, energi, dan transportasi publik menjadi target utama.

Sekretaris Jenderal INTERPOL, Jürgen Stock, menegaskan:

“Kejahatan siber kini menjadi ancaman paling cepat berkembang. Para pelaku menggunakan AI, enkripsi, dan dark web untuk menyamarkan jejak. Polisi tidak bisa bekerja sendiri; kita membutuhkan kerja sama global.” (dilansir dari rilis resmi INTERPOL, 19/9/2025).

2. Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Daring

Isu lain yang menjadi sorotan adalah perdagangan manusia. Menurut laporan yang dipaparkan oleh delegasi dari Thailand dan Filipina, ratusan korban berhasil diselamatkan dari jaringan penipuan online yang memaksa mereka bekerja di pusat-pusat scam.

Dilaporkan oleh Channel News Asia (20/9/2025), sindikat kriminal memanfaatkan media sosial untuk menjebak korban dengan tawaran pekerjaan palsu. Setelah sampai di lokasi, korban dipaksa menjadi pekerja paksa di pusat penipuan berbasis daring, atau bahkan diperdagangkan lintas negara.

3. Narkoba Sintetis

Narkoba sintetis juga menjadi isu besar. Produksi dan distribusi methamphetamine serta pil yaba di Asia Tenggara meningkat tajam.

Dalam konferensi, dipaparkan hasil Operation Lionfish-Mayag, sebuah operasi lintas negara yang difasilitasi INTERPOL.

Menurut rilis INTERPOL (19/9/2025), operasi ini menghasilkan:

  • Penyitaan puluhan ton methamphetamine.
  • Ratusan juta pil yaba.
  • Lebih dari 600 tersangka ditangkap di 12 negara, termasuk Myanmar, Laos, dan beberapa negara ASEAN.

Komisaris Polisi Singapura, Hoong Wee Teck, menegaskan:

“Perdagangan narkoba bukan hanya merusak generasi muda, tapi juga menjadi sumber pendanaan bagi kelompok kriminal terorganisir. Operasi bersama membuktikan bahwa kolaborasi lintas negara bisa menimbulkan dampak nyata.” (dilansir dari Tribratanews Polri, 20/9/2025).

4. Kejahatan terhadap Satwa Liar

Selain kejahatan terhadap manusia, konferensi juga membahas perdagangan ilegal satwa liar. Menurut laporan INTERPOL, nilai perdagangan satwa liar ilegal di Asia mencapai miliaran dolar per tahun.

Barang-barang yang sering diselundupkan meliputi:

  • Gading gajah.
  • Sisik trenggiling.
  • Burung langka dari Asia Tenggara.

Kejahatan ini bukan hanya merugikan ekosistem, tetapi juga terkait dengan pendanaan sindikat kriminal.

Operasi Lionfish-Mayag: Bukti Nyata Kerja Sama

Sorotan utama konferensi adalah keberhasilan Operation Lionfish-Mayag. Operasi yang dilakukan sepanjang 2025 ini dianggap sebagai salah satu operasi narkoba terbesar di Asia.

Dilansir dari INTERPOL (19/9/2025), hasil operasi meliputi:

  • Penangkapan lebih dari 600 tersangka.
  • Penyitaan narkoba dalam jumlah masif.
  • Pemblokiran jaringan keuangan kriminal yang menggunakan cryptocurrency.

Operasi ini dipuji sebagai bukti nyata pentingnya kerja sama lintas negara di bawah koordinasi INTERPOL.

Konferensi INTERPOL Asia 2025 dihadiri oleh perwakilan dari 49 negara. Menurut laporan Channel News Asia (20/9/2025), negara-negara peserta termasuk:

  • ASEAN: Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam.
  • Asia Timur: Jepang, Korea Selatan, Tiongkok.
  • Asia Selatan: India, Pakistan, Bangladesh.
  • Mitra global dari Australia, Kanada, hingga beberapa negara Eropa.

Namun, dalam rilis resmi INTERPOL tidak disebutkan secara eksplisit apakah Indonesia ikut serta sebagai delegasi resmi. Media lokal juga belum melaporkan kehadiran Polri dalam konferensi ini.

Sebagai tuan rumah, Singapura menegaskan pentingnya solidaritas regional.

Komisaris Polisi Hoong Wee Teck mengatakan:

“Singapura bangga menjadi tuan rumah konferensi ini. Kami percaya hanya dengan kolaborasi erat, kita bisa menghadapi ancaman bersama. INTERPOL adalah platform yang menyatukan kita semua,” (dilansir dari rilis resmi SPF/INTERPOL, 19/9/2025).

Konferensi ini melahirkan beberapa kesepakatan strategis, antara lain:

  1. Pertukaran data real-time antarnegara anggota INTERPOL.
  2. Operasi gabungan lanjutan dalam pemberantasan narkoba dan perdagangan manusia.
  3. Pelatihan forensik digital untuk meningkatkan kapasitas aparat kepolisian.
  4. Kampanye publik guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman online.l

Selain kepolisian, konferensi juga dihadiri oleh perwakilan organisasi internasional.

Menurut laporan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) yang dikutip INTERPOL, kerja sama lintas sektor sangat penting dalam memerangi kejahatan terorganisir. Kehadiran lembaga non-pemerintah di bidang perlindungan anak dan lingkungan memperkuat pendekatan multidimensi terhadap ancaman kriminal.

Bagi Asia Tenggara, konferensi ini punya arti penting:

  • Perang melawan narkoba: wilayah Golden Triangle (Laos, Myanmar, Thailand) masih menjadi pusat produksi methamphetamine.
  • Ancaman scam online: banyak warga Asia Tenggara direkrut menjadi pekerja paksa dalam industri penipuan.
  • Kejahatan lingkungan: perdagangan satwa liar dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina sering masuk radar INTERPOL.

Indonesia sendiri, meski tidak disebut eksplisit sebagai peserta, tetap menjadi bagian penting dalam konteks regional. Apalagi, Polri adalah anggota aktif dalam jaringan INTERPOL National Central Bureau (NCB) di Jakarta.

Konferensi INTERPOL Asia 2025 di Singapura menegaskan bahwa kejahatan lintas negara adalah ancaman nyata yang tidak bisa ditangani sendirian.

Seperti disampaikan Sekjen INTERPOL, Jürgen Stock:

“Tidak ada negara yang bisa menghadapi kejahatan transnasional sendirian. Hanya dengan solidaritas dan kolaborasi kita bisa melindungi generasi mendatang.” (INTERPOL, 19/9/2025).

Dengan hadirnya 49 negara dan berbagai organisasi internasional, forum ini menjadi bukti bahwa kerja sama global adalah kunci untuk melawan kejahatan siber, perdagangan manusia, narkoba sintetis, dan perdagangan satwa liar di Asia Pasifik.