BONA NEWS. Nusa Tenggara Timur. — Gunung Lewotobi Laki-Laki resmi memuntahkan awan panas setinggi lebih dari 20 kilometer ke langit Flores Timur pada Senin malam (7/7/2025). Letusan eksplosif ini tak hanya mengguncang wilayah udara dan daratan, tapi mulai memicu krisis kesehatan masyarakat yang belum mendapat perhatian serius, peningkatan tajam kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), keterbatasan masker, dan kurangnya informasi dini kepada warga desa.
Di beberapa Puskesmas seperti di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura, pasien berdatangan sejak dini hari dengan keluhan serupa: batuk kering, iritasi tenggorokan, sesak napas, dan mata perih. Abu vulkanik pekat mengubah langit menjadi kelabu dan meresap ke rumah-rumah warga yang belum dievakuasi.
“Hari ini saja sudah 60 lebih pasien datang hanya dari tiga desa. Kami kewalahan karena masker dan oksigen portable sangat terbatas,” ujar dr. Lusia Margaretha, Kepala Puskesmas Wulanggitang, melaui Selulernya.
Masker Menipis, Relawan Bergerak
Kelangkaan masker medis menjadi persoalan nyata di desa-desa sekitar kaki Gunung Lewotobi. Di Desa Boru, Wotowiti, dan Konga, warga mulai membuat masker dari kain basah dan sisa kain rumah tangga. Forum Peduli Kesehatan Desa (FPKD), sebuah inisiatif relawan lokal, turun langsung ke lapangan membagikan masker kain seadanya kepada anak-anak dan lansia. “Masker di kios habis sejak malam kemarin. Kami inisiatif buat sendiri dan keliling kampung sejak pagi,” kata Leo Boli, Koordinator FPKD Boru.
Beberapa relawan juga membagikan brosur singkat cara mencuci saluran hidung setelah terpapar abu, dan menyarankan warga untuk tetap berada di dalam rumah jika tidak darurat.
Peringatan Dini Dinilai Terlambat
Meski status Gunung Lewotobi sudah dinaikkan ke level Siaga sejak 6 Juli, banyak warga mengaku tidak mendapatkan informasi memadai tentang risiko kesehatan akibat letusan.
Yohana Ola (34), warga Kampung Konga, bercerita bahwa anaknya bermain di luar rumah saat hujan abu pertama turun. “Kami tahu gunung meletus, tapi tidak ada yang beri tahu dampaknya ke kesehatan. Baru malam kami dengar dari radio desa soal masker,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Flores Timur baru mengeluarkan imbauan penggunaan masker dan penghindaran aktivitas luar ruangan pada Senin sore, sehari setelah abu pertama kali menyelimuti wilayah itu.
Tim Medis Bergerak ke Titik Terisolasi
Menanggapi situasi ini, Dinas Kesehatan Provinsi NTT mengerahkan dua unit mobil medis keliling dan satu ambulans lapangan, bekerja sama dengan TNI untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses. Kepala Dinkes NTT, dr. Daniel Sumurung, menyebutkan bahwa mereka kini memprioritaskan distribusi masker, obat pernapasan, dan alat pelindung ke kelompok rentan. “Kami sudah kirim bantuan tahap awal, terutama ke pengungsian di Kampung Oka dan Wair Ninu. Kami targetkan dalam 48 jam semua desa terdampak sudah terjangkau,” jelas dr. Daniel melalui sambungan telepon.
Bona News menemui Anton Ratu (65), Seorang petani dari Desa Wotowiti, Anton Ratu (65) yang menolak mengungsi karena harus menjaga ladangnya. Ia menunjukkan selembar sarung yang digunakan sebagai masker darurat. “Saya sudah batuk dua hari, dada sakit. Tapi kalau saya pergi, siapa yang jaga ternak dan kebun?” katanya lirih.
Anton adalah salah satu dari ratusan warga yang memilih tetap bertahan di sekitar zona abu dengan keterbatasan alat pelindung diri dan akses kesehatan.
Letusan Gunung Lewotobi telah memunculkan krisis kesehatan mikro yang bisa membesar jika tidak ditangani segera. Minimnya kesiapsiagaan kesehatan masyarakat dalam skenario bencana alam seperti ini menunjukkan bahwa upaya edukasi, distribusi alat pelindung, serta komunikasi risiko belum berjalan optimal di tingkat desa.
Data Fakta: Letusan Lewotobi & Dampak Kesehatan
| Fakta | Data |
|---|---|
| Tanggal Letusan | Minggu, 7 Juli 2025 |
| Tinggi Kolom Abu | ±20.000 meter |
| Status Gunung | Siaga (Level III) |
| Penerbangan Terdampak | Kupang, Maumere, Bali |
| Kasus ISPA Terlapor (awal) | ±130 orang (Flores Timur) |
| Distribusi Masker | Baru menjangkau 3 kecamatan |
| Pos Kesehatan Keliling | 2 unit (Dinkes NTT – TNI) |
Letusan Gunung Lewotobi menunjukkan bahwa krisis kesehatan akibat bencana alam bukan hanya soal luka bakar atau evakuasi fisik, tetapi juga penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA yang bisa menyebar cepat dan melumpuhkan pelayanan kesehatan dasar. Jika pemerintah daerah tidak mempercepat respons distribusi masker, obat, dan edukasi risiko, maka dalam seminggu ke depan, Flores Timur bisa menghadapi gelombang penyakit pasca-letusan yang lebih parah dari yang terlihat hari ini. (Red: AP/BASL).
