BONA NEWS. Gyeongju, Korea Selatan. — Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-Myung di sela penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, Sabtu (1/11/2025).
Pertemuan tersebut menandai langkah awal babak baru kemitraan strategis antara kedua negara, terutama dalam bidang ekonomi, teknologi, dan pertahanan.
Dalam pembicaraan yang berlangsung di sela-sela sesi utama KTT APEC, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Ia mengundang pelaku industri Korea untuk memperluas investasinya di Indonesia, khususnya di sektor energi baru dan terbarukan, kendaraan listrik, semikonduktor, dan industri pertahanan.
“Indonesia terbuka terhadap kemitraan jangka panjang yang berorientasi pada inovasi. Korea Selatan adalah mitra penting dalam upaya membangun ekonomi hijau dan berteknologi tinggi,” ujar Prabowo dalam pernyataannya di Gyeongju.
Presiden Lee Jae-Myung menyambut positif ajakan tersebut. Ia menilai Indonesia memiliki potensi ekonomi besar dan peran penting di Asia Tenggara, menjadikannya mitra kunci bagi Korea Selatan dalam memperluas rantai pasok dan investasi kawasan.
Lee juga menekankan bahwa hubungan kedua negara telah tumbuh pesat, dengan nilai perdagangan bilateral yang menembus lebih dari US$20 miliar pada 2024.
Bahas Pengembangan Jet Tempur KF-21 Boramae
Salah satu poin utama dalam pertemuan bilateral itu adalah kelanjutan kerja sama pengembangan pesawat tempur generasi 4.5 KF-21 Boramae.
Proyek tersebut merupakan kolaborasi antara Korea Aerospace Industries (KAI) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), yang bertujuan menciptakan jet tempur canggih buatan Asia dengan kemampuan stealth parsial dan sistem avionik modern.
Presiden Lee menyatakan bahwa Korea Selatan berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama dengan Indonesia dalam proyek tersebut.
Menurutnya, KF-21 bukan sekadar proyek teknologi, tetapi juga simbol kepercayaan dan kedekatan diplomatik kedua negara.
“Kami ingin melihat proyek KF-21 terus berjalan dan menjadi simbol kemitraan strategis antara Seoul dan Jakarta,” kata Lee dalam pernyataan resmi Istana Kepresidenan Korea.
Sementara itu, Presiden RI menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada kolaborasi tersebut, sambil memastikan aspek pendanaan, manfaat teknologi, dan kemandirian industri pertahanan nasional mendapat perhatian utama.
“Kami akan terus membangun kerja sama yang transparan, efisien, dan memberi manfaat bagi kedua pihak,” tutur Prabowo.
Selain KF-21, kedua pemimpin juga membahas peluang pengembangan drone militer, kapal selam ringan, dan sistem radar pertahanan udara.
Diskusi ini menegaskan arah baru kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Korea Selatan menuju kemitraan industri yang lebih modern dan produktif.
Pertemuan Prabowo-Lee juga menyentuh isu utama yang menjadi fokus APEC 2025: “Innovate Together for Sustainable Prosperity” — berinovasi bersama untuk kemakmuran berkelanjutan.
Dalam konteks ini, Indonesia dan Korea Selatan sepakat memperkuat kolaborasi dalam membangun rantai pasok regional di sektor energi hijau dan digital.
Korea Selatan merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, dengan sejumlah perusahaan besar seperti Hyundai, LG Energy Solution, dan Samsung yang telah menanamkan investasi strategis di Indonesia.
Di sisi lain, Indonesia menjadi pemasok penting bahan baku seperti nikel, kobalt, dan mineral kritis untuk industri baterai dan kendaraan listrik Korea.
“Kerja sama energi dan rantai pasok adalah masa depan kemitraan Indonesia–Korea, Kami ingin memastikan hubungan ini berorientasi pada inovasi, keberlanjutan, dan kemandirian ekonomi kawasan.” ujar Prabowo.
Tak hanya ekonomi dan pertahanan, kedua pemimpin juga membahas hubungan antarwarga negara dan kebudayaan.
Presiden RI sempat menyinggung besarnya pengaruh budaya Korea di Indonesia, mulai dari K-Pop, K-Drama, hingga produk kreatif yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat muda Indonesia.
Lee Jae-Myung menyambut positif hal tersebut, dan menilai pertukaran budaya dapat memperkuat saling pengertian antarwarga kedua negara.
“Kekuatan budaya membuat hubungan bilateral menjadi lebih hangat dan bermakna,” ujar Lee.
Pertemuan bilateral Prabowo dan Lee di Gyeongju mempertegas arah baru diplomasi Indonesia di kawasan Asia-Pasifik: lebih aktif, inklusif, dan berbasis kolaborasi teknologi.
Sebagai presiden baru yang mulai menjabat pada Oktober 2024, Prabowo menunjukkan langkah diplomasi yang tegas dengan mengutamakan kerja sama strategis dan konkret antarnegara mitra.
Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti berbagai bidang kerja sama melalui pertemuan tingkat menteri dalam waktu dekat, termasuk pertemuan teknis di bidang industri pertahanan, energi baru, dan pendidikan vokasi.
