BONA NEWS. Jakarta, Indonesia. — Penyelidikan terhadap ledakan di masjid sekolah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (7/11/2025) terus berlanjut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pihak kepolisian menyimpulkan bahwa insiden tersebut diduga bermotif pribadi, bukan bermuatan keagamaan ataupun terorisme.

Ledakan yang terjadi saat shalat Jumat itu menyebabkan 54 orang luka-luka, sebagian besar merupakan siswa dan guru sekolah. Polisi kini telah menemukan bukti bahan peledak rakitan serta catatan pribadi milik pelaku, yang sedang diperiksa oleh tim forensik dan psikologi kepolisian.

Dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya pada Senin, 10 November 2025, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri menyatakan bahwa hasil penyelidikan sementara tidak mengarah pada tindakan teror atau radikalisme.

“Dari hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi, tidak ditemukan indikasi bahwa ledakan ini terkait dengan kelompok tertentu atau motif keagamaan. Dugaan sementara mengarah pada motif pribadi,” ujar Irjen Asep.

Beliau menegaskan bahwa tim penyidik masih bekerja mendalami latar belakang pelaku, termasuk kondisi psikologisnya.

“Pelaku adalah siswa di sekolah tersebut. Saat ini masih dirawat di rumah sakit dan belum dapat dimintai keterangan,” tambahnya.

Sementara itu, Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa bahan peledak yang ditemukan di lokasi berjenis rakitan sederhana dan bukan berasal dari pabrikan militer.

“Hasil sementara tim Gegana dan Puslabfor menunjukkan bahan yang digunakan tergolong campuran kimia sederhana. Kami belum bisa menyimpulkan apakah dirakit sendiri atau didapat dari pihak lain,” ungkap Kombes Budi dalam keterangan tertulis yang diterima media pada Senin sore (10/11/2025).

Budi menambahkan, polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk ponsel, laptop, dan catatan tulisan tangan yang ditemukan di kamar pelaku.

“Beberapa tulisan dan gambar sedang diperiksa oleh tim psikologi forensik untuk memahami kondisi emosional pelaku sebelum insiden,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan DKI Jakarta per 10 November 2025, sebanyak 23 dari 54 korban luka masih menjalani perawatan di berbagai rumah sakit di Jakarta Utara. Enam di antaranya merupakan siswa yang mengalami luka bakar dan trauma akibat ledakan.

“Seluruh biaya pengobatan korban ditanggung penuh oleh pemerintah provinsi. Kami juga menurunkan tim psikososial untuk mendampingi siswa dan keluarga,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti, dalam rilis resmi yang diterbitkan pada Senin pagi (10/11/2025).

Sekolah Diliburkan Sementara

Kepala Sekolah tempat kejadian, yang enggan disebut namanya, menyampaikan bahwa kegiatan belajar tatap muka diliburkan selama satu minggu. Proses pembelajaran sementara dilakukan secara daring untuk memulihkan kondisi psikologis siswa dan guru.

“Ini masa pemulihan. Kami bekerja sama dengan psikolog dan kepolisian untuk memastikan keamanan dan kenyamanan anak-anak saat kembali belajar nanti,” ujarnya kepada wartawan pada 10 November 2025.

Polisi Imbau Publik Tidak Berspekulasi

Menutup keterangannya, Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menegaskan agar masyarakat tidak mengaitkan insiden ini dengan isu keagamaan atau terorisme sebelum penyelidikan tuntas.

“Kami minta publik tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi. Proses penyidikan sedang berjalan dengan melibatkan Puslabfor, Densus 88, dan tim psikologi Polri. Setiap perkembangan akan kami sampaikan secara terbuka,” tegasnya.

Hingga Senin (10/11/2025), penyidik belum menemukan bukti adanya jaringan atau keterlibatan pihak luar. Semua indikasi sementara menunjukkan bahwa ledakan tersebut merupakan tindakan individual berlatar emosional dari seorang siswa.

Pihak kepolisian masih menunggu hasil lengkap analisis forensik bahan peledak serta evaluasi psikologis pelaku sebelum menetapkan status hukumnya.