BONA NEWS. Jakarta, Indonesia.  — Pasar saham global mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Senin (10/11/2025), setelah muncul harapan bahwa Kongres Amerika Serikat (AS) segera menyetujui pendanaan sementara untuk mengakhiri shutdown pemerintah federal yang telah berlangsung lebih dari 40 hari — salah satu yang terpanjang dalam sejarah negara itu.

Optimisme investor meningkat setelah Senat AS pada Minggu malam menyetujui langkah prosedural untuk melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) pendanaan sementara yang akan membiayai operasional pemerintahan hingga 30 Januari 2026. RUU tersebut juga mencakup tiga rancangan anggaran tahunan penuh yang sempat tertunda akibat kebuntuan politik di Kongres.

Indeks Saham dan Pasar Global Menguat

Indeks saham utama di Amerika Serikat bergerak naik.

  • Nasdaq Composite meningkat sekitar 1,27%,
  • S&P 500 menguat sekitar 0,74%,
  • dan Dow Jones Industrial Average juga naik lebih dari 300 poin.

Sementara itu, di pasar Eropa dan Asia juga terjadi lonjakan serupa.

  • Indeks FTSE 100 Inggris naik sekitar 1,08% hingga menembus rekor penutupan tertinggi di 9.787 poin,
  • sedangkan indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik sekitar 1,36%,
  • dan Sensex India ditutup menguat 319 poin, dengan indeks Nifty menembus level 25.570.

Reli ini menandai pergeseran sentimen global menuju risk-on, seiring berkurangnya ketidakpastian politik di Washington.

Investor menilai adanya kemajuan nyata di Kongres AS menjadi faktor utama di balik kenaikan tajam pasar.
Langkah Senat AS yang meloloskan tahap awal pembahasan RUU pendanaan dianggap sebagai sinyal kuat bahwa kebuntuan politik yang menahan aktivitas ekonomi selama berminggu-minggu akan segera berakhir.

Shutdown yang dimulai lebih dari sebulan lalu telah menyebabkan jutaan pegawai federal tidak menerima gaji, layanan publik terganggu, serta data ekonomi tertunda. Para ekonom memperkirakan dampaknya dapat memangkas pertumbuhan ekonomi AS hingga 0,3–0,5% pada kuartal keempat tahun ini.

Kabar positif ini juga memicu pergerakan di pasar valuta asing dan komoditas.

  • Mata uang berisiko seperti dolar Australia menguat, sedangkan yen Jepang sebagai aset safe haven melemah.
  • Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang AS bertenor 10 tahun naik tipis, mencerminkan peningkatan minat terhadap aset berisiko.
  • Komoditas utama seperti minyak mentah dan emas juga bergerak naik karena ekspektasi pemulihan aktivitas ekonomi setelah shutdown berakhir.

Analis Ingatkan Risiko Masih Ada

Meski sentimen pasar membaik, sejumlah analis memperingatkan bahwa dampak ekonomi dari shutdown tidak akan hilang begitu saja.
Penundaan data ekonomi, gangguan penerbangan, serta penurunan kepercayaan konsumen dinilai dapat membebani ekonomi AS dalam beberapa bulan ke depan.

“Pasar merespons secara positif karena ada kejelasan politik, tapi efek kerusakan ekonomi sudah terjadi dan akan terasa dalam data kuartal mendatang,” kata analis dari Morgan Stanley yang dikutip Reuters.

Selain itu, proses legislasi masih berlanjut karena RUU pendanaan sementara tersebut harus disetujui oleh Dewan Perwakilan (House of Representatives) dan Presiden sebelum resmi berlaku.

Kenaikan pasar saham global pada Senin menandai momen penting setelah berminggu-minggu ketidakpastian. Harapan berakhirnya shutdown memberikan dorongan kepercayaan kepada investor bahwa roda ekonomi Amerika Serikat akan segera kembali bergerak normal.

Namun, di balik euforia tersebut, tantangan pemulihan ekonomi masih menanti. Investor kini menantikan konfirmasi resmi dari Gedung Putih dan Dewan Perwakilan terkait pengesahan pendanaan sementara agar optimisme ini tidak berubah menjadi kekecewaan baru di pasar.